<![CDATA[Ad Familia Indonesia - Articles]]>Wed, 13 Dec 2017 00:52:19 -0800Weebly<![CDATA[The Shadow]]>Wed, 04 Nov 2015 23:35:50 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/the-shadowTHE SHADOW
Bayang-Bayang Yang Menyertai Perjalanan
Oleh: Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Zoom
Entah sejak kapan tepatnya, ia tidak lagi menunggu kedatangan pria itu. Dulu, ia menanti kedatangannya dengan semangat. Menelepon saat suaminya pulang terlambat dari kantor, dan mempersiapkan aneka makanan dan minuman yang disajikan khusus untuk suaminya. Ia juga tidak lagi bersemangat untuk bangun pagi, untuk mengantar kekasihnya berangkat kerja. Dulu, bekal makanan yang dibuat istimewa, selalu akan menyertai sang suami, pahlawannya, ksatria dalam hidupnya. Sekarang ia bahkan merasa tidak ingin lagi bangun pagi di sampingnya, ia merasa sangat asing dengan pria ini. Mungkin ia kelelahan. Ya, kelelahan menunggu, kelelahan untuk mencoba membuat suasana hangat dan romantis dalam perkawinannya, sesuatu yang tadinya penting. Kini tiba-tiba semuanya sirna. Ia tidak bisa lagi memaksa dirinya menjadi seperti dulu lagi. Istri yang hangat, perempuan yang semangat, kekasih yang romantis, dan teman yang cerewet. Semuanya seperti cuma bayang-bayang, ada, tapi tidak nyata. Ia memandangi kekasihnya di malam hari, tertidur kelelahan, setelah bekerja keras. Pria yang begitu mempesona dan istimewa, pemimpin yang dikagumi, suami yang setia dan bertanggung jawab. Bibirnya gemetar saat ia dengan lirih bertanya, “Maafkan aku, sayang, aku tidak tahu lagi apakah aku masih mencintaimu? Aku tidak bisa menemukan diriku yang dulu…” Kemudian ia menangis sendirian dalam kepedihan, menangisi cinta, menangisi ketidakmengertiannya. Pagi hari ia menelepon seorang teman, “Mon, I need your help! Aku kehilangan diriku.”

                                           
Bayang-Bayang
Seorang anak perempuan berusia 1.5 tahun yang baru saja bisa berjalan, sibuk hilir mudik ke sana-ke sini, begitu riangnya, sampai ia melihat bayang-bayangnya sendiri. Ia berlari menghindar, tetapi bayang-bayang mengikutinya. Ia berlari makin kencang, bayang-bayang juga mengejarnya. Putus asa dan ketakutan ia menangis dan berteriak. Mengapa bayang-bayang tidak mau pergi? Begitu menakutkan….

Sahabat, apakah Anda memiliki pengalaman di mana kehidupan Anda ‘dihantui’ oleh bayang-bayang? Anda ingin mengusirnya pergi, tapi ia tetap mengikuti langkah Anda. Anda ketakutan, tetapi ia terus menempel. Anda bingung dan tidak memahami, tetapi ia tidak mau mengerti…

Sahabat, ketika kita belajar IPA di sekolah dasar, kita mengerti bahwa bayang-bayang terjadi ketika cahaya terhalang oleh suatu objek. Cahaya merambat sebagai sebuah garis lurus, sehingga pada titik ia dihalangi, timbul bayang-bayang dari penghalang tersebut. Di psikologi, ada Carl Gustav Jung yang menurut saya terlalu ‘misterius’ untuk menjadi sekedar seorang ilmuwan. Shadow diistilahkan oleh Jung sebagai ‘unknown darkside fo personality’, yang hadir entah karena ada sisi dalam diri kita yang ditolak keberadaannya oleh kesadaran kita, maupun yang memang berada pada wilayah ketidaksadaran. Dia selalu ada, meskipun tidak terlihat nyata. Luar biasa manusia itu ya?

Sahabat, teman saya dalam zoom di atas, adalah sosok pribadi optimis, hangat, dan ceria. Tapi di sisi lain dirinya, selalu ada bayang-bayang kesedihan, kerapuhan, dan kesepian. Kesadarannya memilih optimis, hangat, dan ceria, serta berusaha (entah disadari atau tidak) untuk menekan sisi sedih, rapuh, dan sepi. Tetapi itu tetap ada padanya, terus mengikuti sebagai bayang-bayang, yang akan terus muncul pada waktu-waktu tertentu.

Sahabat, apakah Anda sosok pribadi yang kuat? Ada waktu di mana Anda yang tangguh, kemudian jatuh terisak-isak mengiba. Atau Anda justru adalah orang yang manja dan lembut? Tetapi di waktu-waktu tertentu, Anda bisa menjadi begitu tegas dan bahkan kejam. Saya pernah berjumpa dengan sosok yang begitu lemah lembut dan anggun, tetapi di rumah, ia ‘gemar’ menyiksa asisten rumah tangga, menendang, memukuli, bahkan menyiram air panas. Sampai-sampai suaminya kewalahan melindungi istrinya saat berkali-kali harus berhadapan dengan hukum. Saya juga berteman dengan seorang ‘preman’ yang tattonya keren memenuhi lengan dan kakinya, terkesan sangar dan ‘berbahaya’. Kalau berjalan bersamanya (dia hobi pakai baju lengan buntung untuk memamerkan tattonya), banyak orang menoleh diam-diam dan melemparkan pandangan “aneh”. Tapi mahluk bertatto ini ada kalanya begitu cengeng dan sensitif. Saya sampai berkata kepadanya, “tattoo lu tuh bener-bener nggak nyambung sama kecengengan lu!” Untunglah relasi kami baik, sehingga komentar saya tidak membuatnya murka. Atau Anda pernah merasa begitu tergila-gila kepada seseorang? Sangat jatuh cinta kepadanya? Sampai Anda mengira Anda pasti akan mati saat Anda tidak bisa bersamanya. Tapi di sisi lain, ada saat-saat di mana Anda justru ingin lari dari dirinya? Anda begitu ketakutan saat berada bersamanya, karena khawatir Anda tidak akan bisa lagi bahagia dengan diri Anda sendiri?

Bukan hal yang mengagetkan lagi bahwa pada acara-acara seminar atau konferensi anti narkoba, misalnya, justru terjadi pesta narkoba. Sudah bersusah payah untuk menjadi bersih, banyak teman yang justru relapse kembali dan menggunakan narkoba pada waktu-waktu yang justru menjadi apresiasi dari perjuangannya selama ini. Kita justru seringkali gagal saat kita sedang ‘berhasil’. Mengapa?  Akan sering kita jumpai, di tempat di mana ‘seharusnya’ suci, justru banyak terjadi perbuatan tercela. Mungkin sekali banyak perilaku bejat justru dilakukan oleh orang-orang yang memperjuangkan nilai moral dan kesucian. Mengapa guru menodai muridnya? Mengapa pemuka agama mencemari umatnya? Mengapa orang tua menyiksa anaknya? Mengapa anak membunuh orang tuanya? Mengapa tentara atau polisi menembak rakyatnya? Mengapa pemimpin membohongi bawahannya? Mengapa suami/ istri berselingkuh dari pasangannya? Mengapa negara menipu rakyatnya? Mengapa kita menghianati diri kita sendiri? Mengapa? Mengapa bayang-bayang itu tidak juga mau meninggalkan kita? Mengapa begitu sulit untuk menjadi baik, bahagia, ideal, tanpa diganggu oleh bayang-bayang yang mengganggu?

 

Si Penghalang Cahaya
Sahabat, ada berita baik dan ada berita buruk. Anda ingin yang mana dulu? Kita mulai dengan berita baik saja. Berita baiknya, saat bayang-bayang hadir, sesungguhnya kita mengetahui bahwa kita ada di bawah cahaya. Kita ada di tempat yang terang. Kita dekat dengan sumber cahaya. Di tempat yang redup, bayang-bayang juga akan lemah bahkan pudar. Justru di tempat terang, di situ ada bayang-bayang. Jadi, di tempat terang, di bawah cahaya, kita mendapatkan kesempatan untuk menemukan sisi lain diri kita, kelemahan-kelemahan kita, konflik-konflik yang kita alami, dan sisi yang mungkin belum kita kenali ada pada diri kita. Berita baik, kan? Kita jadi lebih mengenali diri kita sendiri, jelas.

Nah, sekarang berita buruknya. Bayang-bayang hadir karena cahaya dihalangi oleh objek. Dan objek yang dimaksud seringkali adalah diri kita sendiri. Ya, sangat buruk ya, bahwa kitalah yang menjadi penghalang cahaya tersebut. What?

Sahabat pernahkah Anda membiarkan diri Anda masuk kedalam keheningan? Begitu damai dan hati Anda dipenuhi rasa syukur. Kemudian beberapa saat kemudian, muncul pikiran-pikiran ini, “Aduh, saya sudah bekerja begitu keras, mengapa gaji saya tidak juga naik?” atau “Teman saya yang bodoh itu mengapa justru dipilih untuk menjadi atasan saya? Apa tidak ada yang lain?” atau “Jangan-jangan dia mau menipu saya” atau aneka pikiran lainnya, yang menghalangi cahaya bekerja. Saat itulah timbul bayang-bayang. Siapa pelakunya? Ya diri kita, yang menjadi objek penghalang. Teman saya yang antik (saya suka manusia antik, perlu dilestarikan menurut saya) mengatakan, “sebenarnya semesta ini baik-baik saja seperti apa adanya, sampai manusia hadir dan celakalah semuanya.”  Bagi yang sangat percaya bahwa manusia membawa kebaikan bagi semesta ini, bahwa manusia adalah pemimpin yang berbudi pekerti luhur, bahwa manusia adalah “tuan” di jagat raya, silakan saja siap-siap beradu argumentasi dengan teman saya yang filsuf ini. Ia yang indah ini percaya bahwa ada 3000 dunia di dalam sebutir pasir. Dan di dalam setiap dunia yang ada di sebutir pasir itu, pastilah ada pasir. Dan di di dalam salah satu pasir itu ada 3000 dunia lagi, dan begitu seterusnya. Bukan main luasnya. Seorang yang sadar, Syakamuni berkata, “besarnya tanpa bagian luar dan kecilnya tanpa bagian dalam; besarnya hingga alam semesta ini tak bertepi, dan kecilnya hingga materi itu tidak terlihat dasarnya.” Begitulah istimewanya, termasuk Anda dan saya, kita bagian dari semesta, tetapi di dalam diri kita juga ada semesta. Intinya: ribet deh pokoknya…he he he. Jadi, begitu kompleksnya kita, tetapi bukankah justru simple? Ketika kita bisa berkata “ya, memang ada banyak hal yang saya tidak pahami, dan saya menerima keadaan ini.” Atau kita juga bisa dengan lega mengatakan kepada diri kita, “ya, saya mungkin saja keliru.” Setelah itu, kemudian semua menjadi simple, kita tidak lagi memaksakan kehendak, kita tidak lagi merasa ‘berkuasa’, kita tidak merasa perlu menyombongkan diri, kita tidak merasa dengki dengan keberuntungan orang lain, dan kita menjadi lebih sulit berpikir jahat, sehingga kita tidak lagi menjadi penghamba cahaya, ya…

                                                                          If light is in your heart,   
                                                                      You will find your way home
                                                                                       (Rumi)



Pertemuan Dengan Cahaya: The Love Rules
               Where love rules, there is no will to power; and where power predominates, there love is lacking.         
                                                           The one is the shadow of the other.
                                                                                  (CarlJung)

Shadow tidak melulu buruk. Saat kita melakukan hal-hal buruk, ada suara hati yang berteriak-teriak membuat kita merasa tidak enak. Bagaimana kehadiran bayang-bayang membuat kita semakin ‘aware’ tentang siapa kita dan bagaimana posisi kita terhadap cahaya.

Selamat menemukan dan menikmati bayang-bayang, selamat memahami si penghalang cahaya, selamat menikmati terang, dan selamat bertemu cahaya. Selamat mencintai dan selamat berkarya!

Refleksi Perjalanan: Denpasar, Kuala Lumpur, Pematang Siantar, Makassar, Jakarta
Oktober 2015
Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Managing Director Ad Familia Indonesia
www.adfamilia-indonesia.com

]]>
<![CDATA[Broken]]>Sun, 20 Sep 2015 07:27:35 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/brokenBROKEN ?
Yang Rusak dan Yang Bangkit
Oleh: Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Zoom
Ia sudah biasa dicap “rusak”. Kata tersebut biasanya mengacu pada standar moral, yang membuatnya menjadi ‘marjinal’ karena perilakunya yang dinilai buruk. Atau mengacu pada penampilannya? Bisa juga. Jangan salah, bukan karena tidak cantik, tapi tatonya yang begitu berseni dan besar di tempat yang mencolok saat ia berpakaian seksi, mengundang komentar tersebut. Atau riwayat hidupnya? Itu juga bisa jadi ukuran mungkin. Ulang kelas 2 kali, tidak tamat SLTA pada masa seperti sekarang ini, dan pernah menjadi tahanan polisi selama 2 minggu sebelum ayahnya datang ‘menebus’nya? Pacaran dan ‘kumpul kebo’ dengan pria pengedar narkoba yang kemudian mencampakkannya dan menghajarnya berulangkali sampai ia kemudian tidak tahan lagi? Ya, itu juga kategori ‘rusak’ menurut sebagian orang. Cap “rusak” tidak terlalu mengganggunya, sampai suatu ketika dengan kepedihan mendalam dan air mata berlinang, dari bibir ibunya terlontar kalimat, “Kamu ini memang benar-benar sudah rusak. Memang tidak ada harapan lagi.” Saat itulah ia merasa bahwa dirinya benar-benar telah rusak. Ia tidak bisa menatap setitikpun cahaya saat berusaha melihat masa depannya.




Setitik Noda dalam Catatan Perjalanan
Sahabat, Anda pernah ‘rusak’? Apakah dalam pengalaman hidup Anda ada yang menjadi ‘noda setitik’ (atau bahkan banyak titik)? He he he… Hal buruk, menderita, atau hal memalukan apa yang pernah terjadi di masa lalu Anda? Yang itu membawa dampak kepada reputasi, harga diri, kehormatan, status, atau pencapaian Anda berikutnya? Sahabat dalam zoom di atas menginventarisir beberapa noda dalam masa remajanya, yang dalam perjalanan hidup selanjutnya membuatnya terusir (lebih tepat diusir) oleh ayahnya dari rumah, ditolak oleh keluarga kekasihnya (terutama calon mertua perempuan), sangat sulit menemukan pekerjaan yang bisa membuatnya mandiri, dan kesulitan mempertahankan relasi cinta dan membuatnya ‘terpaksa’ bergonta-ganti pasangan dan menerima cukup banyak kekerasan (baik seksual, fisik, maupun emosional) dari beberapa pasangannya, dan yang paling menyakitkan adalah ketika ia benar-benar kehilangan dukungan ibunya yang selama ini diam-diam mengunjunginya dan memberinya penghiburan, makanan, dan uang. Kekecewaan dan kepedihan ibunya karena ia tidak juga bangkit dari noda hitam hidupnya, telah membuat sahabat kita kehilangan segala-galanya.

Ada banyak orang yang saya temui memilih untuk ‘melupakan’ noda-noda di masa lalunya. “Life must go on” sangat banyak penganutnya. Entah dimaknai dengan benar atau tidak, pokoknya dilupakan deh, tidak enak diungkit-ungkit. Sebagian lagi memilih untuk secara khusus ‘menutupi’ dan ‘menyembunyikan’ dari orang-orang di sekitarnya. Mencari lingkungan baru, membangun ‘image’ baru, dan menghapus masa tertentu dari daftar riwayat hidupnya. Sebagian anak panti yang merasa bahwa menjalani kehidupan di panti asuhan akan menjadi ‘noda’ bagi kehidupannya, memilih untuk tidak mencantumkan masa belasan tahun tinggal di panti asuhan, dan sebisa mungkin menghindari hal tersebut diketahui orang lain. Teman saya yang pernah beberapa bulan ‘menginap’ di penjara, mengupayakan dengan sangat agar sesedikit mungkin orang mengetahui hal tersebut, dan ke beberapa rekan, ia mengaku selama ini pergi ke luar negeri. Seorang pemimpin yang dikenal berhati ‘dingin’ mati-matian menyembunyikan masa lalunya bahwa di masa SMP dan SMA-nya, ia menjadi anak yang terus dibully, dihina, dan tidak dihargai teman-temannya. Bahkan seorang anak berusia 6 tahun yang akan masuk SD, memohon kepada ibunya untuk masuk ke kelas 1 SD di sekolah lain yang lebih jauh dari rumahnya, dengan alasan ia malu bila masuk SD di sekolah yang sama, ada banyak teman yang mengetahui bahwa ia pernah BAB (buang air besar) di kelas dan ditertawai seluruh kelas.

Sebagian lagi memilih untuk menjadikan ‘noda’ masa lalunya justru untuk ‘mengalahkan’ cap yang diberikan orang lain. Sahabat saya yang sudah kenyang dapat label ‘anak broken home’ di masa mudanya, yang terus diungkit oleh guru-gurunya untuk menjelaskan perilakunya yang dinilai sebagai antagonis saat remaja, saat ini berjuang dalam tegangan tinggi untuk membuat anaknya tidak jadi anak broken home. Ia mati-matian memperjuangkan perkawinannya agar tetap utuh, dengan suami yang benar-benar bisa diteladani sebagai ‘penyiksa istri’, karena ia berjuang agar anaknya tidak jadi ‘anak broken home’ seperti dirinya. Sementara anaknya menjadi anak yang menarik diri dan begitu pendiam, terbiasa melihat adegan perang bubat dari kedua orang tuanya. Teman saya lainnya, diberi gelar ‘toko emas jalan’ karena perhiasannya sangat mencolok (baik dalam jumlah, bentuk, dan ukuran) dikenakannya setiap keluar rumah. Diurut-urut, kehidupan masa kecilnya yang miskin dan seringkali dihina orang, membuatnya merasa ‘harus’ menampilkan kekayaannya dalam bentuk ‘emas’ yang akan menaikkan statusnya.

Kerusakan
Pertanyaan selanjutnya adalah: “Apakah setitik noda dalam perjalanan Anda membuat Anda rusak?”
Sebagian akan terpaksa mengatakan “YA”, karena terdapat beberapa bukti sebagai berikut:
  • Kita tidak bisa sungguh menikmati saat ini, ‘present’. Kehidupan kita terus berjalan, tetapi secara mental, kita masih berada di masa lalu. Kita memberikan respon dengan kerangka dari masa lalu. Kita mengambil keputusan untuk pemecahan masalah untuk saat ini, juga dari pertimbangan masa lalu. Kita menyukai orang-orang yang kita sukai di masa lalu, dan membenci orang-orang yang di masa lalu kita memang tidak kita sukai. Kita menatap wajah-wajah baru dengan frame yang lama, “oh, orang tipe begini, pastilah dia begini.” 
  • Kita menjadi over sensitive terhadap topik-topik yang bersinggungan dengan ‘noda hitam’ kehidupan kita di masa lalu. Kita berusaha melupakan atau mengabaikannya, tetapi saat tidur, ia datang berwujud mimpi. Kita berusaha menutupinya dengan menganggap semua baik-baik saja, tetapi tiba-tiba kita ‘meledak’ hanya karena hal-hal sederhana, ada kebocoran-kebocoran yang tidak bisa kita tahan. 

Sebagian bisa dengan lega mengatakan “TIDAK”, setitik noda dalam perjalanan Anda tidak membuat anda menjadi manusia rusak dan tidak merusak seluruh kehidupan Anda.
Mengapa bisa demikian?
                               Blessed are the hearts that can bend; they shall never be broken.
                                                                             Albert Camus

There is Hope…
Sahabat, pernahkah Anda bertanya kepada orang-orang yang memiliki pengalaman masa lalu begitu kelam, atau menyakitkan, atau memalukan, atau amat menderita (bukan cuma setitik atau beberapa titik noda), namun mereka tidak menjadi rusak, bahkan bisa bermakna dan membawa harapan bahwa hidup ini baik?

Kalau belum pernah, mari kita berupaya untuk melakukannya… Mari lihat di sekeliling kita, manusia-manusia tangguh ini, yang dalam kesesakan dan kekelaman, bisa menemukan harapan untuk melihat cahaya dan bangkit pasca kejatuhannya. Itulah resiliensi, kemampuan manusia untuk melenting, untuk bangkit setiap kali jatuh, untuk bersabar menanggung penderitaan, dan kuat menghadapi tantangan.

“The greatest glory in living lies not in never falling;
But in rising everytime we fall”
(Nelson Mandela)

Resiliensi, yang menggambarkan bagaimana kemampuan kita beradaptasi dalam kondisi tertekan dan menderita, saat ini sungguh menjadi sebuah kemampuan EMAS. Di tengah kesesakan dan hiruk pikuk kehidupan yang seolah menenggelamkan keyakinan, harapan, dan cinta, kemampuan ini menjadi setitik cahaya. Kemanusiaan kita mampu, kita memiliki kemampuan untuk menanggung apa yang perlu kita tanggung, untuk membayar apa yang perlu kita bayar, dan untuk bersabar untuk bersuka cita karena kita mampu memaknai penderitaan-penderitaan kita dengan benar. Kemampuan untuk tidak rusak, bahkan menjadi semakin bermakna dan bernilai, dengan tempaan penderitaan hidup.

                            The world breaks everyone, and afterward, some are strong at the broken places.
                                                                            Ernest Hemingway

Selamat menemukan harapan, selamat menanggung apa yang perlu ditanggung, dan syukur untuk ‘tidak menjadi rusak’ karena setitik noda’ dalam kehidupan kita….. Selamat saling melipur dan menyembuhkan.

 
Jakarta, 20 September 2015
Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Managing Director Ad Familia Indonesia
www.adfamilia-indonesia.com

]]>
<![CDATA[In The Name of Love]]>Fri, 28 Aug 2015 00:06:47 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/in-the-name-of-loveIn The Name of Love
Tentang Ke-’gila’-an, Ke-’jenius’-an, dan Ke-’suci’-an
Oleh: Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Zoom
Ia memutuskan untuk mendonorkan 1 ginjalnya untuk temannya yang mengalami gagal ginjal dan saat ini harus cuci darah dua kali seminggu. Mendengar ‘ide’nya orang-orang di sekitarnya segera menoleh dan pandangan mereka seolah menyatakan “What? Are you crazy?” hanya ungkapan itu tidak sampai hati untuk dilontarkan pada saat itu. Banyak juga yang tidak berkomentar, tapi pandangan matanya bertanya, “apa sih yang dicari?” Satu rekan mengatakan kepadanya, “Udah, nggak usah cari perkara, anak lu masih kecil-kecil, lu punya banyak tanggung jawab, n karir lu lagi oke banget. Kalau ada apa-apa gimana? Please, deh. Banyak orang lain juga cuci darah, bisa kok berumur panjang.” Rekan lain berkata dengan aura kecerdasan yang amat terasa, “Ya lu kudu pake otak-lah, rasional. Katanya lu pinter, timbang-timbanglah…. Konsekuensinya gede, lho. N itu harus lu tanggung seumur hidup. Bukan cuma jangka pendek.” Rekan lainnya, dengan aura spiritual yang kental berkata, “Segala sesuatu itu ada jalannya. Sudah jalannya temanmu mengalami hal ini, ini berkaitan dengan kejadian di masa lalu, sebelum masa kehidupan yang sekarang. Jadi, kita perlu bisa menerima keadaan.” Komentar saudaranya lain lagi,dengan nyinyirnya berkata, “Operasi tuh sakit banget tau, lu nggak bakalan kuat deh. Emang ginjal bisa keluar sendiri? Lagian lu gendut gitu mana boleh jadi donor ginjal. Kalo gue nggak bakalan mau ya kasihin ginjal gue  ke elu kalo sampe lu kenapa-kenapa.” Gubrak! Untunglah suaminya berkata, “Lakukan yang benar, bukan yang enak. Ikuti panggilan hidupmu!” Bagaimana ia tidak jatuh cinta berkali-kali, pada suami ‘aneh’ seperti itu?

 
Are You Crazy?
Sahabat, apakah Anda pernah dibilang “GILA” sama orang? Ha ha ha, apa yang saat itu Anda lakukan sehingga dibilang “GILA”? Saat saya bermain dengan anak-anak saya, saya meniru monster ini dan itu, mengeluarkan suara geraman dan lengkingan, berlari-larian, dan memasang wajah-wajah aneh dengan gerakan aneh. Mereka tertawa terpingkal-pingkal dan berkomentar, “mami gila, ih…”. Kemudian saya tanyakan kepada mereka, “Senang nggak punya mami “GILA”?” Mereka menjawab, “Seneng bangetlah…” Ha ha ha… Gelar ‘gila’ lainnya saya dapat ketika saya kuliah di Magister Profesi Psikologi. Udah kuliahnya susah, masih sambil kerja bantu suami (karena nggak bisa diam), sambil ngurus 1 anak, dan sempet-sempetnya 2 kali hamil selama 2 tahun berkuliah, ha ha ha….

Segala sesuatu yang di luar ‘normal’ atau ‘yang kebanyakan’, atau ‘aneh’, atau ‘menyimpang’ dari rata-rata kebanyakan orang, begitu mudahnya mendapat gelar ‘gila’. Sahabat, apakah Anda termasuk orang yang memiliki kadar ke’iseng’an yang cukup untuk bisa menikmati hidup? Pernahkah Anda melakukan hal “gila” kemudian Anda amati respon orang sekitar? Para mahasiswa saya melakukan ‘penelitian’ kecil ini… Mereka secara berkelompok akan melakukan hal yang “gila” dan sebagian teman lain mengamati respon orang di sekitar. Bagaimana hasilnya?

Sahabat, sungguh tidak mudah menjadi orang yang ‘berbeda’. Anda akan banyak mendapatkan cap-cap dari orang lain. Tiba-tiba kita akan memiliki banyak ‘hakim’ yang mengambil keputusan tanpa melewati persidangan yang adil. Sebagian lainnya, yang merasa bahwa Anda ‘aneh’ akan dengan riang menertawakan Anda. Bila mereka cukup sopan, minimal mereka senyum-senyum saja sambil sedikit berbisik-bisik betapa anehnya Anda. Sebagian lagi akan seolah tidak melihat Anda. Bisa saja berpura-pura. Biasanya berpikir demikian, ”Lu aneh banget, sih, gue lagi sibuk begini. Nggak penting banget ngurusin lu”. Atau memang sebagian lain tidak menyadari keanehan Anda, karena terlalu sibuk dengan diri dan urusannya sendiri, sampai ada orang gila lewat disia-siakan saja. Sebagian lagi merasa takut, sehingga menghindari bertemu atau berdekatan dengan Anda. Ke”gila”an membuat Anda sulit untuk diduga, susah untuk diprediksi, dan hal itu sangat menakutkan. Lebih baik memutar melalui jalan yang jauh, daripada berpapasan dengan Anda, ha ha ha… Nah, tapi selalu ada saja orang “gila” lainnya yang bisa menemukan keindahan dalam keanehan Anda. Ada juga yang malahan kagum (silakan tanyakan pada mahasiswa saya), dan malahan ada yang ikut melakukan  hal aneh bersama Anda, karena menurut mereka, Anda begitu “cool”. Ha ha ha…. Ada kalimat yang bisa menjadi penghiburan bagi para orang aneh (termasuk saya) demikian:
                                                                                                                          Being Unique Is Better Than
                                                                                                                                               Being Perfect

Jenius Vs Dull?
Sahabat, Anda pernah punya orang yang ‘terlalu’ pintar? Saya punya teman, pria, yang IQnya 142 ketika diuji dengan menggunakan Weschler Intelligence Scale for Children (WISC) ketika ia berusia 10 tahun. Ia begitu cepat dalam menerima dan mengolah informasi, tetapi sampai sekarang (dari sekolah juga sudah dikeluhkan), ia begitu sulit mengambil keputusan. Saking rumitnya proses mengolahnya di otak, sampai output-nya, misalnya berupa keharusan mengambil keputusan, menjadi tidak berani ia keluarkan. Sewaktu kami pergi menginap bersama saat acara sekolah, handuknya ketinggalan. Katanya maminya lupa masukin ke  tasnya. Dia malu dengan anak-anak cewe, jadi dia manggil-manggil nama saya dari kamar mandi (padahal saya cewe juga, tapi dia yang jenius itu tidak menyadari keperempuanan saya! Hiks). Kalau sama anak cowo, dia takut karena suka dibully. Dia minta dibelikan handuk. “What? Ogah ah, jalan ke warung kudu turun jauh, lu kira gue cinta banget ya ama lu?” Otak praktis saya yang tidak secanggih dia dengan mudah memberikan usulan solusi, “Udah, lu andukan dulu pake baju bekas, ntar baru pake baju trus lu beli anduk deh.” Eh, nggak mau lho dia. Saya pinjamkan handuk bekas saya juga tidak mau, takut ketularan ‘aneh’ kali. Karena kesal, saya katakan, “Ya udah, lu tunggu aja ampe kering, pas tetesan air terakhir sudah jatuh, pakai baju deh. Beres!” Marah dia… Jenius atau dull mirip-mirip pada akhirnya… Cuma orang seperti teman saya ini, memang suka berteman dengan saya, karena walaupun iseng, saya tidak jahat katanya…. Ha ha ha…
Albert Einstein dengan sisi ‘nakal’nya mengeluarkan ungkapan:
                                                                                                                         “Intellectuals solve problems;
                                                                                                                                Geniuses prevent them”

Sahabat, apakah Anda punya pengalaman ketika keputusan yang Anda lakukan dianggap bodoh oleh orang lain, padahal Anda melakukan hal yang baik? Anda dianggap bodoh karena dianggap keputusan Anda tidak rasional. Atau Anda memilih melakukan hal-hal yang mungkin akan membawa konsekuensi buruk atau tidak enak pada Anda. Atau dianggap melakukan hal-hal yang ‘tidak penting’ atau tidak menghasilkan keuntungan besar.

Teman saya yang lain, rajinnya bukan main, walau otaknya dull beneran. Dia datang pagi, bekerja keras, dan sangat tekun. Saya sampai berpikir, sepertinya kantor dia akan musnah deh kalau tidak ada teman saya ini. Tapi justru dia dianggap bodoh. Dia seringkali mendapat komentar, “Lu oon banget sih Cup, mau-maunya dimanfaatin sama bos bengis kaya gitu disuruh kerja keras. Lu pindah kerja aja sana, cari bos yang lebih baik.” Si Ucup cuma senyum-senyum saja, toh dia jelasin juga pada nggak mengerti. Dia merasa bermakna, karena ia berguna, pusing amat dibilang bodoh.



Yang Suci Ada Di Mana?
Bila Anda diminta saat ini untuk membantu mencari sosok orang ‘suci’, di mana Anda akan mencarinya? Jaman kayak gini gitu lho, mencari yang ‘suci’… ha ha ha, terbayang betapa sulitnya. Apakah Anda akan mencari di rumah ibadah? Atau boleh coba ke tempat-tempat ziarah para kudus? Atau mungkin mencari di tempat-tempat pertapaan? Atau di asrama-asrama dan sekolah keagamaan? Yuk kita cari manusia langka itu…

Saya menemukan 1 orang suci, di rumah sakit jiwa. Bertahun-tahun dokter dan perawat, serta psikolog di sana, mendapatkan kehormatan besar untuk bertemu langsung dengannya, berinteraksi, dan kalau mendengarkan dengan benar, akan mendapatkan insight. Tapi, karena dianggap cuma “gila”, ya soal “suci” tidak terlihat. Manusia “suci” ini bisa di mana saja. Meski jumlahnya sedikit, tapi mereka menyebar di mana-mana….. Ha ha ha….

Bagi saya, ‘suci’ atau ‘kudus’ adalah orang-orang yang patuh pada hati nuraninya, yang memilih melakukan yang benar, dan bukan yang enak:
           “If you can’t listen to your own conscience, what makes you think you’ll listen to the Holy Spirit?”

 
In The Name Of Love
Kisah The Good Samaritan bukan hanya milik kelompok agama tertentu. Dunia kedokteran menggunakan kisah ini sebagai acuan dalam melayani manusia. Tanpa pamrih, tanpa membeda-bedakan suku-agama-ras, semua manusia diperlakukan dengan cinta. Silakan Anda baca kisahnya untuk menyegarkan Anda tentang contoh nyata dari judul “in the name of love”.

Siapakah manusia pemberani nan suci, yang dalam nama cinta dan belas kasih, berani untuk melakukan yang benar, meskipun dibilang “gila” dan “bodoh”? Tanpa manusia-manusia seperti ini, apalah jadinya dunia kita ini?

Selamat mencintai, selamat melakukan yang benar….

Jakarta, 28 Agustus 2015
Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Managing Director Ad Familia Indonesia
www.adfamilia-indonesia.com

]]>
<![CDATA[Therapy Dogs]]>Sat, 22 Aug 2015 22:49:15 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/therapy-dogsTherapy Dogs
Oleh: Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psikolog
Hewan adalah sahabat manusia, salah satu hewan yang paling umum dipelihara adalah anjing. Seekor anjing adalah benar-benar teman terbaik manusia. Tidak hanya sebagai hewan peliharaan, ternyata seekor anjing pun bisa menjadi terapis untuk manusia. Menyenangkan bukan memiliki terapis berbulu halus untuk disentuh dan akan selalu mendengarkan kita bercerita tanpa harus merasa dihakimi? Anjing-anjing terapis ini mempunyai profesi yang disebut sebagai therapy dogs. Therapy dogs merupakan bagian dari pet therapy hanya saja dikhususkan pada anjing sebagai terapis. Anjing-anjing yang sudah dilatih menjadi terapis dalam therapy dogs akan bekerja di rumah sakit, sekolah, panti jompo, pusat rehabilitasi, kondisi stress seperti area bencana dan juga di penjara. Fungsi utama hewan ini dalam penerapan terapi adalah memberikan kenyamanan pada pasien dengan adanya kontak fisik seperti belaian.

Sejarah awal kemunculan therapy dogs diawali pada saat perang dunia II, ketika itu seorang prajurit bernama William Wynne yang selalu ditemani dengan anjingnya yang berjenis Yorkshire Terrier bernama Smoky. Smoky menemani Wynne dalam banyak misi peperangan, menyediakan kenyamanan dan hiburan bagi kelompok, bahkan membantu tentara perang untuk menyelidiki keberadaan bom. Smoky menjadi seekor anjing terapis ketika Wynne mengidap suatu penyakit. Selama proses penyembuhan Wynne, teman-teman Wynne membawa Smoky ke rumah sakit untuk mengunjungi dan menghibur tentara tersebut dalam sakitnya. Sejak itu, Smoky menjadi terkenal di antara tentara-tentara yang sedang sakit di rumah sakit tersebut. Dr. Charles Mayo, pendiri Mayo Clinic, adalah pemrakasa yang mengijinkan Smoky untuk berkeliling rumah sakit bahkan tidur di samping tempat tidur Wynne selama lima malam. Semenjak itu, pekerjaan Smoky menjadi anjing terapis terus berlanjut selama 12 tahun.

Perkembangan dari pendekatan sistematik dalam penggunaan therapy dog tidak lepas pula dari Elaine Smith, seorang perawat yang berasal dari Amerika dan bekerja di Inggris. Smith mengatakan, pasien banyak mengalami kemajuan ketika dikunjungi oleh pendeta dan seekor anjing golden retrievernya. Ketika kembali ke Amerika di tahun 1976, Smith mendirikan program pelatihan anjing untuk menjadi terapis yaitu Therapy Dogs International (TDI). Bertahun-tahun kemudian, therapy dogs diakui oleh para profesional di bidang kesehatan. Therapy dogs mempunyai efek therapeutic, seperti mengurangi stres, mengurangi tekanan darah dan meningkatkan spirit, bahkan saat ini therapy dogs membantu anak yang mengalami kendala dalam speech and emotional disorders.

Therapy dogs merupakan bagian dari animal-assisted therapy, hanya saja anjing lebih umum digunakan dalam animal-assisted therapy karena anjing lebih mudah untuk dilatih (dibandingkan kucing dan kelinci). Therapy dogs sendiri harus dibedakan dengan animal assistance karena assistance dogs dilatih untuk membantu orang-orang yang memiliki berkebutuhan khusus, seperti tuna netra ataupun orang yang dengan alat picu jantung agar mampu beraktifitas seperti orang normal, sedangkan therapy dogs dilatih untuk menyediakan kenyamanan dan membantu mengurangi rasa stress pasien dan orang-orang yang membutuhkan, sehingga anjing-anjing terapis dalam therapy dogs lebih berperan bagi kesehatan mental kliennya.

Salah satu contoh pelaksanaan therapy dog dilakukan di Yale Law School. Sekolah ini sedang dalam masa percobaan menempatkan seekor anjing terapis bernama Monty di perpustakaan. Monty dapat ditemui dan diajak bermain oleh para siswanya selama setengah jam  sebanyak tiga kali sehari.  Menurut petugas perpustakaan tersebut, mengunjungi therapy dog dapat meningkatkan kebahagiaan, ketenangan, dan kesejahteraan emosional para siswa. Seorang siswa tingkat kedua mengatakan bahwa sangat menyenangkan bermain dengan Monty selama setengah jam, terlepas dari tujuan sebenarnya untuk mengurangi kecemasan. Saat ini, sekolah tersebut sedang mempertimbangkan untuk menjadikan program therapy dog sebagai program yang permanen karena terbukti mengurangi tingkat stress para siswa.

Contoh pelaksanaan therapy dog lainnya dilakukan oleh seekor anjing terapis bernama Carmen yang mengunjungi panti jompo tiga minggu sekali. Saat Carmen datang, para penghuni meninggalkan aktivitasnya untuk menemui Carmen. Carmen membawa kebahagiaan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Meskipun para penghuni hanya membelai telinga Carmen atau menatap ke dalam matanya yang hangat, Carmen dapat membuat hari-hari mereka menjadi lebih cerah.

Pelaksanaan therapy dog juga dilakukan oleh Graham, seekor anjing keturunan cocker spaniel di unit psikiatri sebuah rumah sakit. Graham selalu mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan umpan balik nonverbal dengan penuh empati. Para remaja di unit psikiatri sebuah rumah sakit mengungkapkan berbagai hal kepada Graham, yang tidak mereka katakan pada orang tua atau dokter. Ternyata hal ini memberikan efek positif di unit psikiatri tersebut.

Seekor anjing pun ternyata dapat menjadi co-therapist untuk orang-orang dengan kebutuhan khusus seperti:

1. Anak-anak dengan gangguan pertumbuhan seperti Down’s syndrome
   Therapy dog membantu anak-anak dengan gangguan pertumbuhan agar dapat belajar mematuhi instruksi dan 
   merawat makhluk hidup. Therapy dog juga dapat diberikan pada anak dengan gangguan belajar.
2. Orang-orang dengan gangguan mental
   Therapy dog menjadi mediator yang baik untuk membangun rapport antara terapis dengan pasien. Pasien juga
   dapat merespon dengan baik dan tidak terlalu cemas lagi karena kehadiran therapy dog.
3. Orang-orang atau anak-anak dengan masalah emosional
    Sifat unconditional love dan nonjudgmental yang dimiliki anjing membuat pasien merasa penting, dibutuhkan,
    dan dicintai. Hal ini membantu pasien merasa lebih tenang dan belajar menumbuhkan kepercayaan.
4. Orang-orang dengan keterbatasan fisik seperti cerebral palsy, multiple sclerosis, dan gangguan motorik 
    lainnya.Terapi ini membantu pasien memperbaiki postur, keseimbangan, mobilitas, dan fungsi sehari-hari. 
    Terapi ini juga memberikan perubahan emosi dan  kognitif secara signifikan.
5. Pasien dengan penyakit terminal

Terapi ini membantu mengurangi kemungkinan menjadi depresi, meningkatkan kenyamanan, serta memberikan dukungan kepada pasien.
1.  Penghuni panti jompo
     Terapi ini membantu penghuni panti untuk meningkatkan ketertarikan terhadap sekitar, kesehatan mental,
     aktivitas, interaksi sosial, dan komunikasi. Peningkatan sosialisasi diantara para penghuni membantu 
     terapis okupasi untuk mencapai tujuan treatment yang membutuhkan proses kelompok yang baik.
2.  Remaja berisiko atau bermasalah
    Therapy dog membantu remaja belajar mengenai tanggung jawab dan kepercayaan. 
    Terapi ini juga membuat mereka memiliki teman untuk berbicara dan merasa dibutuhkan serta berharga. 
3.  Tahanan di penjara
    Therapy dog membantu para tahanan belajar mengenai kepercayaan diri dan skill baru. Terapi juga membantu
    mereka meningkatkan self-esteem dan self-worth.

Pada saat kejadian 9/11 lalu, ternyata kehadiran therapy dogs dibutuhkan untuk membantu korban-korban serta keluarga korban yang bergabung dalam Family Assistance Centers (FACs). Kehadiran anjing-anjing tersebut tidak hanya membantu para korban, tetapi juga para volunteers, tentara, polisi, pemadam kebakaran, dan pekerja sosial lainnya. Selain itu, therapy dogs juga menolong untuk mengurangi stress yang dialami para pengungsi akibat bencana badai Katrina di Amerika tahun 2005 lalu. Fungsi therapy dogs pada peristiwa bencana bukanlah untuk mengobati luka para korban, tetapi mereka membantu membuat perubahan positif dari kehidupan emosional korban. Kehadiran therapy dog juga dapat meningkatkan perilaku sosial dari orang-orang dengan Alzheimer dalam hal senyuman, tawa, perhatian, sentuhan, verbalisasi, panggilan, dan lainnya. Selain itu, para perempuan dalam situasi tertekan yang ditemani oleh hewan peliharaan menunjukkan reaksi fisik yang lebih minim daripada para perempuan yang tidak ditemani oleh hewan peliharaan. Therapy dog membantu orang-orang yang memiliki masalah yang menarik diri dari interaksi dengan manusia untuk bercerita dan berbagi mengenai cerita apapun.

Therapy dog juga dapat diaplikasikan untuk keluarga yang memiliki anak dengan autisme. Keluarga ini seringkali mengalami kesulitan dan kebebasan yang terbatas dalam kehidupan sehari-hari. Therapy dog sekaligus service dog membantu keluarga ini sebagai pelindung untuk anak dengan autisme dari bahaya fisik. Selain itu therapy dog juga berperan untuk meningkatkan status sosial keluarga tersebut di masyarakat. Melalui kehadiran therapy dog ini, saudara kandung dari anak dengan autisme dapat membicarakan keluarganya tanpa harus terfokus pada autisme. Keluarga juga dapat bepergian keluar rumah dengan tenang karena ada therapy dog yang juga berfungsi sebagai service dog. Untuk anak dengan autisme sendiri, therapy dog membantu anak tersebut untuk menjalani tugas sehari-hari dengan lebih baik, mengurangi frekuensi emosi yang meledak, dan meningkatkan fungsi koordinasi tubuh si anak.

Kelebihan dari terapi ini terletak pada kualitas anjing yang membuat mereka memiliki kemampuan therapeutic. Beberapa kualitas tersebut adalah :

1. Warm and Fuzzy
    Aktivitas menyentuh dan memelihara makhluk hidup dapat memberikan perasaan nyaman.
2. Nonjudgmental
    Anjing tidak menghakimi dan tidak mengkritik. Mereka menerima manusia apa adanya. 
    Bagi para remaja dengan gangguan psikologis, berbicara dengan orang dewasa adalah hal yang sangat 
    dihindari karena hanya akan menuai kritik, penolakan, dan hukuman. 
    Namun, dengan kehadiran anjing terapis, para remaja ini dapat mengungkapkan perasaannya dengan bebas 
    tanpa takut dikritik.
3. Trusting
    Anjing sangat bisa mempercayai manusia dan dapat membantu manusia untuk bisa percaya. 
    Anjing juga membuat manusia belajar untuk membutuhkan orang lain.
4. Unconditional love
    Anjing dapat menangkap emosi manusia dan memberikan respon dengan penuh perhatian.
    Hewan peliharaan seperti anjing sangat loyal dan menimbulkan rasa sayang, serta tetap bersama dengan 
    manusia dalam kondisi apapun.
5.  Listen
    Anjing adalah pendengar yang baik, tidak menginterupsi, tidak merasa harus berbagi pendapat, dan tertarik 
    dengan semua topik. Meskipun belum diketahui secara pasti sejauh mana kemampuan anjing dalam 
    menerima bahasa, anjing tetap mampu untuk mengerti beberapa bentuk komunikasi dari manusia.
6.  Anjing membantu manusia merasa penting, dibutuhkan, berharga, dan istimewa
7.  Clowns
     Hewan seperti anjing tidak bermain untuk kompetisi. Mereka bermain murni hanya untuk kesenangan.
8.  Anjing sebagai hewan peliharaan tidak mengalami mood swings sehingga mereka merupakan terapis 
     dengan emosi yang konsisten

Jenis terapi ini masih belum umum terdengar di Indonesia. Terapi ini secara tidak langsung terjadi pada para pemilik dan pecinta anjing dalam interaksi manusia dan hewan ini. Apalagi dengan semakin banyaknya komunitas pencinta anjing di Indonesia yang sebenarnya secara tidak langsung memberikan efek terapetik bagi manusia meskipun tidak secara formal dapat disebut sebagai therapy dogs. Hambatan untuk penerapan therapy dog di Indonesia salah satunya adalah mayoritas penduduk Indonesia menganut ajaran agama Islam dan belum umumnya sebuah terapi dilakukan oleh seekor hewan. Selain itu, hambatan lain juga dapat terjadi pada orang-orang yang memiliki alergi atau tidak suka dengan anjing. Nilai-nilai yang dipegang masyarakat Indonesia kurang mendukung penerapan therapy dog ini.

Selain itu, umumnya rumah sakit di Indonesia tidak mengijinkan hewan peliharaan masuk lingkungan rumah sakit dengan alasan sterilisasi sehingga sulit penerapan therapy dog di Indonesia. Bahkan di Indonesia, penerapan animal assisted bagi penderita tuna netra dan pengguna alat pacu jantung belum banyak dilakukan seperti di Amerika atau di Jepang. Akan tetapi, tidak perlu khawatir karena therapy dogs ini sebenarnya dapat diterapkan dalam konsep hewan peliharaan. Meskipun tidak memiliki efek sebesar therapy dog, hewan peliharaan juga dapat memberikan unconditional love bagi pemiliknya. Ikatan yang tercipta antara manusia dan binatang peliharaannya dinilai dapat membuat seseorang merasa baik mengenai dirinya sendiri, dan kemudian dapat menampilkan tingkah laku positif terhadap orang lain. 



Jakarta, 22 Agustus 2015
Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psi
]]>
<![CDATA[Seri Psikoterapi: Anger Management for Parents]]>Fri, 07 Aug 2015 20:27:27 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/seri-psikoterapi-anger-management-for-parentsAnger Management For Parents
Ketika Ayah & Bunda Marah...
Oleh: Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psikolog
Setiap orang tua pastinya pernah merasakan marah dan bahkan kemarahan yang sangat besar, baik ke pasangan, ke pekerjaan, kehidupan sehari-hari, bahkan ke anak sendiri. Tetapi, penting yang untuk diingat, kemarahan orang tua dapat memberikan efek yang sangat besar terhadap kepribadian anak dan behavior pada anak. Terkadang alasan-alasan anak berperilaku nakal tidak hanya sebatas kecemburuan pada saudara kandung atau mencari perhatian dari sekitarnya. Ada alasan lain yang sering terlupakan dan bukan kesalahan dari anak, tetapi berasal dari kemarahan dan rasa frustasi seorang orang tua yang tertangkap oleh anak. Ingatlah selalu bahwa anak belajar dari imitasi perilaku orang tua, dan mereka akan meniru orang tuanya terutama saat mengekspresikan kemarahannya, maka jangan heran ketika anak kita berteriak-teriak, memaki ataupun memukul ketika marah.

Permasalahan yang dialami oleh orang tua dalam kehidupan sehari-harinya seringkali tanpa disadari terluapkan melalui kemarahan pada perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapannya. Dalam posisi emosi yang tenang, kita tahu sebagai orang tua dapat mengatasi setiap permasalahan dalam pengasuhan anak dengan baik. Namun, ketika sedang mengalami badai emosi kemarahan maka yang terlintas di pikiran kita adalah pertanyaan-pertanyaan seperti “kok bisa anak ini tidak bertanggung jawab? tidak bisa diandalkan?”. Akan tetapi, terkadang kemarahan orang tua tidak serta merta disebabkan oleh perilaku anak, tetapi berasal dari diri orang tua tersebut sendiri. Seperti contohnya, ibu melihat anak pertamanya memukul adiknya, dalam pikiran si ibu “ya ampun kakak mukul adik lagi!”, kemudian ibu pun membuat kesimpulan sendiri dengan cepat “kakak menjadi sangat agresif dan nakal!”, yang pada akhirnya memicu kesimpulan lain seperti “saya telah gagal menjadi ibu”. Pikiran-pikiran seperti itu memicu berbagai emosi seperti rasa takut dan rasa bersalah. Maka, tanpa disadari untuk mengatasi perasaan dan pikiran tersebut, orang tua akan mengekspresikan kemarahannya pada anak dengan cepat. Proses pikiran seperti berjalan dengan sangat cepat hingga mungkin akan muncul dengan pukulan ataupun makian.

Tanpa disadari, unfinished business yang dimiliki masing-masing orang tua berperan penting pada pola asuh pada anak. Isu apapun yang dirasakan oleh orang tua di masih kecil yang dirasa tidak nyaman ataupun traumatis, akan menjadi luka yang tidak tersembuhkan selama hidupnya, dan anak pun akan kembali merasakan luka tersebut tanpa disadari dari perilaku sehari-hari orang tua ke anak. Ada sebuah cerita mengenai ayah yang memarahi anaknya di sebuah toko mainan ketika anaknya meminta dibelikan sebuah mobil-mobilan. Ketika anaknya meminta mainan, si ayah langsung meledak kemarahannya dan memaki anaknya di depan umum hingga akhirnya anak pun disingkirkan oleh satpam agar tidak terkena pukulan dari ayahnya. Si Ayah bukanlah seorang ayah yang tidak mampu secara finansial untuk membelikan mainan untuk anaknya, dan anaknya pun tidak menunjukan gejala tantrum ketika meminta mainan. Setelah digali lebih dalam lagi, ternyata si Ayah ketika kecil pernah berada di posisi si anak, meminta mainan dari ayahnya dan kemudian mendapatkan semprotan amarah dan makian dari ayahnya. Tanpa disadari, rasa takut serta traumatis di masa kecil tersebut terus terbawa hingga si Ayah besar dan memiliki anak hingga akhirnya trauma tersebut keluar melalui amarah si Ayah ke anak ketika anaknya meminta mainan. Sama seperti kejadian waktu si Ayah masih kecil. Ini mungkin satu cerita dari seribu cerita lainnya, di luar sana masih banyak lagi kasus-kasus kekerasan pada anak yang lebih menyeramkan dari cerita si Ayah tadi yang disebabkan adanya trauma masa kecil yang tidak terselesaikan. Oleh sebab itu, ada baiknya kita menyelesaikan setiap unfinished business yang dimiliki agar tidak menjadi beban dan hantu yang terus mengikuti seumur hidup dan tanpa disadari meledak ke anak yang kita cintai. Akan semakin baik jika sebagai orang tua kita paham dan mengenal apa saja ‘beban’ dan ‘hantu’ yang terus membayangi kita seumur hidup untuk mengatasi rasa marah dalam diri. Kemarahan orang tua akan berdampak buruk pada anak di masa perkembangannya.

Anak tidak melihat ‘abu-abu’, mereka tidak memahami kemarahan orang tua ke anak bukan berarti suatu hal yang personal. Bukan berarti orang tua benci pada anak, bisa saja merupakan sebuah proyeksi kemarahan dan kekecewaan kita pada hal lain. Tetapi, yang anak lihat adalah orang tua selalu marah ke dirinya setiap waktu. Cobalah lihat dari sudut pandang anak, self esteem dan kepercayaan diri mereka pun terancam karena seringkali mendapatkan marahan dari orang tua. Anak dapat merasakan apapun yang mereka lakukan selalu salah dan tidak sesuai dengan keinginan orang tua. Jangan salahkan anak ketika pada akhirnya mereka menjadi anak yang agresif dan destruktif karena mereka akan meniru apa yang mereka lihat dalam keseharian.

Marah adalah satu hal yang natural. Hanya saja, saat kemarahan itu muncul rasanya sulit bagi kita untuk mengontrolnya. Marah saja sudah cukup menyeramkan, apalagi jika ditambahkan dengan pukulan, kata-kata kasar maupun bentakan keras. Lalu, bagaimana cara orang tua dapat mengontrol kemarahan mereka ke anak dengan cara yang lebih konstruktif dan positif? Ketika kita marah, secara fisik tubuh kita sudah siap untuk melawan dengan adanya hormon dan neurotransmitter yang mengalir dalam tubuh. Hal ini membuat otot menjadi tegang, jantung berdegup kencang dan nafas pun menjadi semakin cepat. Ketika titik ini terjadi, pada kenyataannya akan sulit bagi kita untuk tetap merasa tenang, rasanya ingin langsung ‘memuntahkan’ pada orang yang ada di depan mata (mungkin pada saat itu anak kita). Yang paling bisa diingat luar kepala adalah komitmen kita untuk tidak memukul, menyumpahi, ataupun memberikan hukuman-hukuman ketika kita marah, seperti mengurung di kamar mandi. Hindari pula untuk berteriak pada anak, karena yang terlihat adalah orang tua yang tantrum. Tentu kita tidak ingin terlihat seperti itu bukan di depan anak kita? Maka, apabila butuh untuk berteriak, teriaklah sekencang-kencangnya di dalam mobil tertutup atau kamar tertutup yang tidak ada satu orang pun dapat mendengarnya, dan jangan gunakan kata-kata karena itu hanya akan membuat kita semakin marah. Sekali lagi ingatlah, perilaku apapun yang kita munculkan ketika marah, mau itu teriak, membentak, atau memukul akan ditiru anak, maka berilah contoh yang positif.

Ketika orang tua mulai merasa marah atau kesal, pahami kembali alasan yang membuat kita marah. Posisikan diri orang tua di posisi anak, mungkin saja anak tidak bermaksud untuk membuat marah orang tuanya dengan disengaja. Fokus atensi anak tidaklah besar sehingga mereka mudah sekali teralihkan tanpa bermaksud membuat orang tuanya marah. Tariklah nafas sedalam mungkin untuk menenangkan diri untuk berpikir lebih jernih. Tetapi, apabila menghadapi anak yang benar-benar mengganggu dan nakal seperti membantah ataupun berteriak-teriak ketika orang tua sedang berbicara, hentikan dulu aktivitas yang sedang dilakukan, ajak bicara anak mengenai aturan dalam keluarga dan ekspetasi orang tua pada anak, arahkan mereka dalam situasi saat itu, dibandingkan langsung berteriak kepada anak.

Ada beberapa orang yang memilih untuk mengekspresikan emosinya dengan memukul bantal, sebaiknya ketika orang tua memilih strategi ini ingatlah untuk tidak terlihat oleh anak. Ketika anak melihat orang tuanya memukul bantal sembari berteriak akan menjadi suatu traumatis sendiri bagi anak. Tenangkanlah diri terlebih dahulu dengan bernafas tenang, resapi kembali rasa marah yang sedang dirasakan sembari tetap berpikir alasan dibalik kemarahan tersebut, umumnya ketika kita memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berpikir maka akan muncul emosi-emosi lain seperti rasa takut, sedih, dan kekecewaan. Pahami setiap emosi itu hingga rasa marah itu pun akan hilang dengan sendirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi jarak terlebih dahulu dari anak, seperti ‘mengurung’ diri dulu di kamar mandi atau kamar tidur untuk menenangkan diri, dan juga menghindari diri sendiri untuk tidak memukul anak. Ingatkan diri kita bahwa anak kita membutuhkan cinta dan kasih sayang kita, saat ini mereka hanya bertingkah laku mencari perhatian orang tua saja.

Salah satu langkah positif yang dapat dilakukan adalah berbicara secara jujur apa yang dirasakan dan juga dapat mengeluarkan emosi-emosi negative yang tersimpan. Hal ini dapat juga melatih kepekaan dan empati pada anak. Kata-kata yang dapat diucapkan seperti “ibu marah sama kamu karena kamu sudah diminta tolong untuk bereskan bajumu sendiri, tapi ga dilakuin”.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengelola kemarahan dalam diri orang tua, selain yang sudah disebutkan sebelumnya. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi kemarahannya, apapun itu yang terpenting ingatlah untuk tidak melakukan kekerasan fisik maupun verbal ketika marah. Marah pun memiliki tujuan dalam pengasuhan anak, seperti pendisiplinan, sebagai sebuah sinyal terhadap sesuatu yang salah maupun peringatan akan sebuah bahaya. Ekspresikan kemarahan kita dengan cara yang positif dan sehat maka anak tetap merasakan dicintai dan merasa aman. Dengan demikian, anak pun akan dapat menangkap pesan yang tersimpan dalam kemarahan orang tuanya. Selesaikan terlebih dahulu setiap unfinished business kita agar tidak menjadi ‘pisau’ yang tidak disadari dapat melukai perkembangan psikis anak. 



Jakarta, 7 Agustus 2015
Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psikolog
Koord. Psikolog Sahabat Keluarga
Koord. AFI Public
Ad Familia Indonesia

]]>
<![CDATA[WHO ARE YOU?  Siapa Mencari Akan Menemukan]]>Sun, 02 Aug 2015 09:35:10 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/who-are-you-siapa-mencari-akan-menemukanWHO ARE YOU?
Siapa Mencari Akan Menemukan
Oleh: Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Zoom
Tidak ada yang lebih mengesalkan bagi dirinya saat ia ‘dinasehati’ oleh semua orang untuk lebih BERSYUKUR. “Masa bersyukur harus bilang-bilang sama semua orang?” Siapa saja yang menasehati? psikiater, psikolog, tokoh agama, guru BK, guru wali kelas, orang tua, saudara, teman sekolah, teman les, teman facebook, dan orang nggak kenal yang ikutan pertemuan support group juga ikutan nimbrung nasehatin (kenal enggak, saudara juga bukan, tapi semua komentar!). Kecenderungannya untuk melakukan self-harm dengan rajin menyayat tangan dan pahanya dengan cutter, serta tak terhitung pikiran untuk mati dan bunuh diri, serta beberapa kali upaya bunuh diri, membuatnya ‘sah’ menjadi pasien tetap bagi psikiater dan psikolog. Ia bahkan pernah mengalami sebuah kegiatan untuk pengusiran roh jahat (semoga para Sahabat pernah menonton exorcist, ya, kurang lebih seperti itu walau tidak seekstrim film). Dalam penglihatan orang lain, aneh bila ia ingin mati. Kehidupannya begitu sempurna. Cantik, pintar, kaya, disayang, keluarga sempurna dengan orang tua yang saling menyayangi. Sepertinya tidak ada alasan untuk mati. Tapi ia juga tidak berhasil menemukan alasan kuat untuk hidup. Kalau jujur, ia sebenarnya takut mati. Tapi ia jauh lebih takut terhadap hidup. Ketakutannya terhadap hidup bertarung dengan ketakutannya terhadap mati. Dulu ia takut mati bunuh diri, karena takut kalau mati akan jadi arwah gentayangan yang amat menderita. Sekarang hal ini sudah tidak membuatnya takut lagi. Ia memutuskan untuk menguji. Ia mau memberanikan diri menghadapi hidup, bila hidup ini memang layak diperjuangkan. Sebelum bertanya yang lebih sulit seperti untuk apa hidup ini dan apa makna hidup ini, ia bertanya, “siapa kamu?” kepada dirinya, dan perlahan selaput-selaput mulai terbuka…



Pertanyaan Mendasar: Siapa Kamu?
Sahabat, apakah Anda pernah mencoba mengajukan pertanyaan “siapa kamu?” kepada diri Anda sendiri? Anda sudah mencatat apa saja jawabannya? Salah satu keuntungan menjadi manusia, adalah kita bisa membuat ‘jarak’ dengan diri kita sendiri, sehingga kita bisa menjadi seolah-olah 2 pihak atau bahkan banyak pihak. Anggaplah ada sebuah percakapan di dalam diri:

Saya (1)  : Siapakah kamu?
Saya (2)  : Saya adalah Mona, seorang psikolog klinis
Saya (1)  : Kalau kamu bukan psikolog klinis, lalu kamu bukan Mona?
Saya (2)  : Ya tidak juga sih, tetap Mona, tapi mungkin tidak komplit, gitu lho…
Saya (1)  : Lalu, kamu siapa jadinya? Yang kalau itu tidak begitu, maka kamu bukan Mona?
Saya (2)  : Manusia yang mencari jawaban, merindukan untuk pulang… yang mau sejati
Saya (1)  : Ah, susah amat, jadi kalau orang lain juga mau mencari jawaban dan merindukan pulang, 
                dia disebut Mona juga?
Saya (2)  : (mulai murka) Kamu rese banget sih emang kamu sendiri siapa? Kamu tau?
Saya (1)  : Saya kan yang tanya duluan, kenapa kamu balikin lagi pertanyaannya? Bilang aja kalau
                tidak bisa jawab, kok marah
Saya (2)  : Tuh kan nggak bisa jawab… Mona ya Mona, gitu aja kok repot (pinjam istilah Gus Dur)
Saya (1)  : Ya nggak boleh gitu, harus jelas lah, iya kan?
Saya (3)  : (sedang mengamati percakapan antara saya 1 dan saya 2, mencoba memahami
                saya 1 dan saya 2) Hening…
Saya (4)  : (sedang mengetik percakapan yang terjadi di dalam batin ini, sedang mengamati saya 3…) Hening…

Ada berapa lagi saya?

Sahabat, betapa indahnya dan misteriusnya manusia ini. Sehingga kita memiliki lapisan-lapisan kesadaran yang cukup banyak. Tidak heran bila secara umum diketahui bahwa ada sisi-sisi yang seringkali kita tidak paham, dan sering tidak muncul, atau tidak kita munculkan di hadapan orang lain. Mengapa seorang perempuan yang begitu lemah lembut, sabar, pendiam, dan begitu pemalu, saat tiba saatnya persalinan, menjadi perempuan yang ‘mengerikan’. Mencaci suster perawat, membentak dokter, mencakar suaminya, berbicara kasar, dan rauangannya saat bersalin membuat trauma semua mahluk hidup yang ada di kamar persalinan. Anda boleh lakukan survey ke para bidan atau dokter kandungan yang memang menemani persalinan adalah ‘makanan’ sehari-hari. Sementara perempuan seperti saya, yang tampak gagah perkasa, berani, pemarah, dan dinamis, ketika di ruang persalinan ternyata menjadi begitu cengeng dan penurut, so sweet… ha ha ha… Setiap merasakan kesakitan akibat kontraksi, yang saya lakukan merintih-rintih (pelan), “aduh sakit”, “aduh Tuhan, sakit banget..”… padahal saya pemarah, kenapa tidak muncul saat itu? Mengapa sebagian pelaku pelecehan seksual yang pedofil, justru adalah orang-orang yang sangat lucu, hangat, disukai sekali oleh anak-anak, dinantikan untuk main bersama. Tetapi ia juga yang melakukan tindakan yang membawa trauma psikologis yang sangat sulit hilang sampai puluhan tahun. Sahabat saya, orang yang sangat teratur, sistematis, dan serba terencana, dan sangat menjadga image, tetapi ketika tiba saatnya pesta, wah…dahsyat, gila-gilaan, mabuk, dan banyak mempermalukan diri sendiri saat ia mabuk. Hancur sudah reputasi yang mati-matian dijaganya saat ‘sisi 1’ muncul. Sisi lainnya menghancurkan apa yang dibangun oleh sisi 1. Kasian deh… He he he…

Sebagian akan buru-buru bertanya, “jangan-jangan gue ini kepribadian ganda ya?”

 
Yang Bukan Kamu
Sahabat, memang tugas maha sulit yang akan menghabiskan waktu sepanjang kehidupan kita untuk menjawab pertanyaan “siapakah kamu?” kepada diri kita sendiri. Setiap pengalaman dan langkah dalam kehidupan, itulah kita, itu menjadi wajah, identitas, bagian, dan diri kita. Yang mungkin bisa kita lakukan adalah dengan mencoba menemukan YANG BUKAN AKU pada diri kita. Ini menjadi lebih mudah sebagai langkah awal, karena kita bisa mendata apa saja yang kita kira adalah diri kita, ternyata bukan. Ia tidak hakiki, tidak penting, dan tidak menentukan siapa diri kita sesungguhnya. Apa saja misalnya?

Misalnya: ijasah kita, harta kita, popularitas kita, kebiasaan-kebiasaan kita, gaya hidup kita, negeri-negeri yang kita kunjungi. Itu semua bisa dicoret, semua hanya atribut. Tapi siapakah saya saat saya telanjang tanpa atribut? Tanpa seragam? Tanpa mahkota dan perhiasan? Tanpa topeng?

Sahabat, pernahkah Anda membuat daftar kata sifat yang meggambarkan diri Anda? Ada berapa banyak kata yang bisa Anda kumpulkan untuk menggambarkan diri Anda? Sampai saya melahirkan anak pertama saya, saya tidak menyadari bahwa saya memiliki sifat ‘lembut’. Pengalaman sebelum-sebelumnya, membuat ‘kelembutan’ yang saya miliki (karena bisa dikeluarkan pada saatnya), belum memunculkan dirinya. Saya cukup terkejut, betapa saya sangat lembut dan sangat alamiah, menggendong, memandikan sendiri bayi saya dari sejak awal, dan menyusui dengan sangat lembut. Sempat saya khawatir bahwa posisi tidur saya yang seperti orang pencak silat akan membuat saya menindih bayi saya tanpa sengaja saat saya tidur. Tapi kekhawatiran itu tidak terjadi. Dari mana munculnya Mona yang lembut dan keibuan? Saya tidak mempelajarinya saat kuliah. Itu muncul pada saatnya, dan itu mengubah saya, mengubah bagaimana saya memandang diri saya, mengubah bagaimana saya bisa menjalankan peran baru dalam kehidupan, menjadi ‘wajah’ dan identitas saya yang baru, kesejatian saya yang baru.  

                              Mengenal benda-benda, menjadi pandai; Mengenal orang lain, menjadi bijaksana;
                                                     Mengenal diri sendiri, menjadi TERANG BUDI

                                                                          (Anthony de Mello).

 
Yang Bukan Kamu (Bagian 2)
Pernah ada teman berdiskusi dengan saya. Kata dia, karena saya ‘aneh’, maka dia mau berbicara dengan saya (saya bingung harus senang atau sebal, jadi ya biasa sajalah). Intinya dia bilang dirinya adalah titisan iblis, karena pikirannya dipenuhi rencana jahat kepada teman yang sedang ia benci. Saya bertanya, “pernah tidak dalam hidupmu kamu merasa tidak ‘iblis’?” Dia menjawab “pernah”. Itu adalah waktu dia merasa bahagia sekali karena menolong ibunya yang terpaksa menjadi janda karena ditinggal ayahnya menikah lagi. Melihat sinar mata ibunya, meski ia harus berkeringat, ia sangat senang. Lalu dia berceloteh lagi tentang saat-saat dia tidak iblis, ternyata banyak juga. Lalu dia menyimpulkan sendiri, “ternyata saya adalah iblis yang berhati baik.” Saya berkata, “oh, begitu ya… mana yang menurutmu lebih menggambarkan dirimu: kamu iblis yang berhati baik, atau manusia baik yang memiliki sisi iblis?” Dia tidak menjawab, tapi dia berkata sebelum pulang,  “kamu emang orang aneh.” Memang teman saya ini tidak sopan sama sekali. Sudah didengarkan, malahan pulang meloyor begitu saja setelah bilang bahwa saya aneh. Tapi dari blog dia (saya suka membaca blog-nya, tapi tidak bilang kepada dia, supaya dia tidak ge-er), saya mengetahui bahwa ia sudah ‘berdamai’ dengan dirinya. Dia bisa melihat bahwa dirinya yang asli baik, tapi ada yang ‘bukan dirinya’ yang suka menempel, membuatnya ingin melakukan hal-hal buruk, membenci, menyakiti. Jadi iblis bukanlah dirinya. Dirinya bukanlah iblis. Tapi ada atribut iblis yang suatu saat dia kenakan. Atribut itu dibuang, dicopot, dibakar, maka ia yang asli akan menjadi lebih terlihat.

Sahabat, pernahkah Anda meragukan apakah diri Anda orang baik atau tidak? Saat keraguan datang, itulah saat yang baik kita melakukan hal ini, bertanya, “siapakah kamu?”

· “Siapakah kamu, yang berpikiran cabul terus, maunya melihat blue film terus, atau mengintip terus (hati-hati 
   bintitan!)?”
· “Siapakah kamu, yang maunya bergosip terus, merasa gembira mendengar berita buruk tentang orang lain?”
· “Siapakah kamu yang suka menutupi, berbohong, suka melebih-lebihkan?”

Karena seringkali, itu bukanlah Anda yang sejati…

Sahabat, saya berjumpa dengan manusia yang mendapat gelar ‘pembunuh’ karena dalam pengalaman hidupnya, ia telah menghilangkan 2 nyawa manusia. Siapakah dia yang asli? Dalam keheningan, terurai aneka kebaikan, keluhuran, dan keindahan, yang bisa muncul pada saat ia tidak sedang mengenakan atribut yang menghalangi kesejatiannya. Percayakah Anda? Silakan buktikan sendiri. Berbincanglah dengan orang yang dianggap “jahat” atau “sadis” atau “licik”. Berbincanglah hati ke hati, dan ketika atribut-atribut yang bukan dia itu lepas, Anda akan melihat siapa dia sebenarnya.

Selamat mencintai, selamat bertanya, “siapa kamu?” kepada diri Anda, selamat menikmati kekaguman terhadap dkebaikan diri Anda, dan selamat berpusing-pusing ria dan menjadi orang aneh!

Jakarta, 2 Agustus 2015
Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Managing Director Ad Familia Indonesia
www.adfamilia-indonesia.com

]]>
<![CDATA[Seri Psikoterapi: PLAY THERAPY]]>Sat, 25 Jul 2015 18:57:56 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/seri-psikoterapi-play-therapySeri Psikoterapi

PLAY THERAPY:
Ayah dan Bunda, Aku Butuh Bermain!
Selamat Hari Anak, Selamat Mencintai, Selamat Bermain!

Oleh: Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psikolog
Ketika sedang makan di sebuah restoran, di meja sebelah saya ada satu keluarga yang terdiri ayah, ibu dan anak laki-lakinya yang saya perkirakan berusia 7 tahun. Keluarga ini cukup menarik saya perhatikan karena minimnya mereka berkomunikasi satu sama lain, saya lihat ayahnya sibuk bertelepon dengan handphonenya, si ibu sibuk ber-chatting ria dengan iphone-nya dan anak mereka pun sibuk bermain game di ipadnya. Masing-masing sibuk dengan gadgetnya, tanpa peduli mereka sedang makan malam bersama. Teknologi selain dapat membawa kemudahan dan kemajuan, ternyata dapat pula menjadi sebuah ancaman terutama dalam kehidupan sebuah keluarga. Padahal, dalam sebuah keluarga sangat penting terjadinya interaksi yang menunjukan kedekatan emosional, kepedulian dan kasih sayang. Menurut saya, momen berkumpul bersama di meja makan adalah satu momen penyatu antara keluarga yang mungkin sudah sibuk masing-masing selama seharian. Momen ini dapat menjadi penguat ikatan dalam keluarga, sehingga sangat disayangkan ketika momen tersebut terhalang dengan kesibukan masing-masing dengan gadget. Padahal, dari beberapa penelitian membuktikan bahwa intensitas bermain gadget yang tinggi pada anak dapat membuat anak sulit konsentrasi dan pemicu ADHD pada anak. Selain itu, kemajuan teknologi saat ini pun mampu untuk memisahkan interaksi sosial antara orang tua dan anak.

Untuk dapat mencegah renggangnya ikatan dalam keluarga, dan juga permasalahan pada anak seperti merasa kurang diperhatikan ataupun sulit berinteraksi sosial karena lebih sering menggunakan gadget, penting bagi orang tua untuk meluangkan waktu lebih banyak dengan anak. Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan bersama adalah bermain. Bermain adalah aspek terpenting dalam kehidupan anak, sama seperti bekerja pada orang dewasa. Orang tua seringkali mengabaikan waktu bermain dengan anaknya karena kesibukan bekerja. Terkadang membiarkan anak menonton televisi maupun bermain gadget merupakan jalan pintas yang dilakukan orang tua untuk mencegah kebosanan pada anak dan seringkali menjadi alasan bagi orang tua agar kegiatan orang tua tersebut tidak terganggu dengan kegiatan mengasuh anak. Bermain adalah sebuah terapi sederhana yang dapat dilakukan orang tua bersama anaknya untuk meningkatkan kualitas hubungan keluarga dan merangsang perkembangan sensoris, motorik, perkembangan sosial, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri, dan perkembangan moral pada anak.

 

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, memenuhi kebutuhan anak akan kasih sayang, perhatian, keamanan, perasaan dimiliki dan sebagainya. Lingkungan yang demikian akan menjadi landasan yang kuat bagi masa depan seorang anak. Hanya saja, terkadang setiap orang tua tanpa disadari berusaha untuk mengendalikan perilaku anaknya dengan paksaan, sehingga muncul perilaku yang tidak diharapkan. Umumnya, masalah perilaku anak secara tidak disadari terbentuk dan dipertahankan oleh interaksi orang tua-anak yang disfungsional. Maka tak heran apabila semakin banyak anak yang tumbuh menjadi individu yang kurang asertif, individualis, maupun menjadi pribadi yang penakut. Bermain dapat dijadikan sebuah terapi karena berfokus pada kebutuhan anak untuk mengekspresikan diri mereka melalui penggunaan mainan dalam aktivitas. Selain itu, dapat pula menjadi upaya untuk meningkatkan efektifitas dan kualitas dalam pengasuhan orang tua ke anak.

Terapi bermain adalah sebuah terapi yang membantu anak untuk mengekspresikan dirinya, melakukan eksplorasi terhadap pikiran dan perasaan dan membuat mereka memahami lebih baik mengenai pengalaman hidup mereka. Bermain merupakan sebuah aktivitas natural yang di dalamnya terdapat aktivitas belajar, eksplorasi dan merupakan media yang sangat efektif dalam membantu anak untuk bisa lebih ekspresif. Waktu bermain tidak hanya bermakna untuk bersenang-senang saja, tetapi juga memberikan kesempatan bagi orang tua untuk dapat mengenal anak lebih dekat dan lebih baik. Dengan demikian, diharapkan gap komunikasi antara orang tua dan anak tidak lagi terlihat.

Tujuan terapi bermain adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Dalam terapi bermain, anak dibebaskan memilih berbagai mainan, permainan, dan aktivitas yang akan dilakukan bersama orang tua. Untuk itu, penekanan utama dalam terapi bermain adalah membentuk hubungan pengasuhan yang penuh kasih sayang dan ikatan yang aman. Terapi bermain pun dapat membantu anak untuk lebih positif dalam memaknai hidup.

Terapi bermain yang melibatkan peran orang tua dalam setiap prosesnya dikenal dengan sebutan filial therapy. Pendekatan ini digunakan oleh keluarga baik yang memiliki masalah maupun yang tidak memiliki masalah namun mempunyai harapan untuk membuat hubungan keluarga mereka semakin kuat. Dalam filial therapy, orang tua akan memiliki peran penting dalam membawa perubahan positif dalam kehidupan keluarga. Orang tua adalah orang terpenting dalam hidup seorang anak, sehingga turut sertanya orang tua untuk bermain dengan anak akan membawa perubahan perilaku yang positif yang lebih tahan lama.

Ada beberapa hal penting dalam sebuah pelaksanaan terapi bermain, terutama yang berfokus pada anak, seperti penghargaan, refleksi, penjelasan, dan ketertarikan. Penghargaan merupakan sebuah bentuk dukungan yang diberikan orang tua ke anaknya, seperti dengan memberikan pujian maupun hadiah. Refleksi adalah kemampuan orang tua untuk mengulangi dan merangkai kembali kata-kata yang telah disampaikan anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua telah mendengarkan dan memberikan perhatian, sehingga dapat mendorong komunikasi yang baik dengan anak. Penjelasan merupakan situasi ketika orang tua menjelaskan aktivitas bermain ke anak, hal ini dapat pula membantu anak untuk mengembangkan perbendaharaan katanya. Keterampilan terakhir adalah ketertarikan, yaitu ketika orang tua mampu menunjukan ketertarikan dan rasa senang terhadap kegiatan bermain yang sedang dilakukan anak. Hal ini dapat membuat anak merasa nyaman bermain dengan orang tua mereka.

Instrumen yang digunakan dalam sebuah terapi bermain pun tidaklah selalu permainan mahal. Contoh-contoh instrument yang dapat digunakan seperti, mainan small figures, pasir dan air, music, clay, craft maupun puppets. Apapun mainan yang digunakan, yang terpenting adalah dapat membantu anak untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui metafora permainan. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam terapi bermain adalah visualiasasi kreatif, storytelling, memahat, role play, menari dan bergerak, serta menggambar. Kreativitas yang tinggi sangat diperlukan dalam sebuah terapi bermain. Membuat permainan dari barang bekas maupun mainan-mainan edukasi yang dibuat sendiri bersama anak pun dapat menjadi sebuah kegiatan yang menguatkan hubungan orang tua dan anak.

Agar proses terapi bermain ini dapat berjalan efektif, yang terpenting adalah membuat anak merasa nyaman, aman dan mau untuk mengikuti terapi bermain, sehingga anak dapat bermain lebih percaya diri dan mudah untuk berbagi apa yang dirasakan ketika bermain. Hubungan positif yang terjalin dalam bermain dapat membantu perkembangan kognitif anak serta tingkah laku yang lebih positif. Semakin banyak orang tua yang sadar akan kekuatan bermain pada anak akan menguatkan hubungan keluarga dan kesehatan mental setiap anak dalam keluarga. Keluarga yang banyak menghabiskan waktu bersama untuk bermain umumnya akan membentuk keluarga yang lebih kuat dan bahagia. Selain itu, akan semakin banyak anak yang tumbuh bahagia dan kuat sebagai masa depan kita.

Anak adalah penerus masa depan, mereka pun cerminan kita di masa depan. Mari orang tua, ijinkan anak untuk bermain! Mari luangkan waktu untuk bermain bersama anak agar anak terus merasa dicintai di hari ini, esok, dan seterusnya!

Selamat Hari Anak Nasional!

Jakarta, 25 Juli 2015

Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psikolog
Koordinator Psikolog Sahabat Keluarga
Koordinator AFI Publik
Ad Familia Indonesia
www.adfamilia-indonesia.com


]]>
<![CDATA[Cupid Is Dead]]>Sat, 18 Jul 2015 19:10:06 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/cupid-is-deadCupid Is Dead:
Sebuah Masa Ketika Asmara Sirna
Oleh: Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Zoom
Sejauh ingatan, sudah lebih dari 4 tahun ia tidak pernah bercinta dengan istrinya. Mereka, ia dan istrinya, (tampak) baik-baik saja, dari dulu selalu begitu. Tidak banyak yang percaya bahwa pria setampan, sekaya, dan se’berkuasa’ dirinya bisa bertahan hidup tanpa seks selama 4 tahun. Tapi biarlah, toh tidak penting, hidupnya ia yang melakoni. Jujur, sekitar 2 tahun lalu ia merasa amat merindukan dibelai, dipeluk, diucapkan kata-kata lembut di telinganya.  Tapi sekarang, sepertinya semua rasa itu sudah sirna. Tahukah bahwa semua perasaan-perasaan yang ada, ternyata hanya sementara saja? Ia pernah ‘menyindir’ istrinya di hari peringatan ulang tahun perkawinan mereka yang memang tidak jauh dari perayaan valentine, katanya, “jangan-jangan cupid lupa ya membidik kita dengan panah asmara, makanya ‘mati rasa’!” Ia mengatakan itu sambil senyum-senyum. Lalu istrinya dengan dingin menjawab, “bukan lupa, cupidnya dah mampus.” Sejak saat itu, tidak pernah ia berusaha untuk mendekati istrinya lagi. Ia membiarkan malam-malam hadir tanpa pelukan, ciuman, dan sapaan mesra. Ia membiarkan istrinya dalam dunianya sendiri, dan iapun menghanyutkan diri dalam keheningan. Bahkan kesepian pun bisa dinikmati, dan kesendirian bisa amat disyukuri.

 
Passion
Sahabat, apakah Anda termasuk orang yang mengkhawatirkan mulai memudarnya gairah dan kemesraan dalam relasi Anda dengan pasangan?

Dulu saat pacaran, tidak pernah tangan Anda tidak digenggamnya saat berjalan bersama. Dulu saat pacaran, ia memiliki panggilan khusus yang mesra untuk memanggil Anda. Dulu saat pacaran, ia terlihat sangat berusaha dan penuh perjuangan hanya supaya bisa berjumpa Anda. Dulu saat pacaran, ia bersedia mengalah dan segera meminta maaf supaya bisa berbaikan dengan Anda dan melihat senyuman di wajah Anda. Dulu saat pacaran, ia rela jauh-jauh menjemput atau mengantar Anda, macet tidak pernah bisa menghalanginya untuk mengantarkan Anda. Dulu saat pacaran, lirikan lawan jenis kepada Anda, membuatnya uring-uringan, karena ia merasa Anda orang terindah di dunia dan siapapun pasti akan ‘mengincar’ Anda. He he he, apa lagi yang ada di memori Anda tentang pengalaman ‘dulu’?

Bagaimana dengan sekarang? Apakah Anda merasa bahwa ‘cupid’ yang dulu pernah membidik Anda dengan panah asmara, tiba-tiba sudah menghilang atau mati?

Sekarang, meskipun Anda memakain baju yang dibuat bercorak sama (kembaran), tapi Anda jarang saling bergenggaman tangan saat berjalan. Kok sepertinya rishi gitu, apalagi usia sudah bukan lagi dibilang muda. Sekarang, karena sudah ada anak-anak, ia memanggil Anda dengan ‘ayah’ atau ‘bunda’ dan nama kesayangan Anda menjadi lenyap. Sekarang, di tengah kelelahan bekerja dan mengurus keluarga, Anda sudah begitu kelelahan, boro-boro bisa kencan dan jalan-jalan berdua seperti dulu. Kok sepertinya egois banget jalan-jalan berdua. Anak-anak bagaimana? Sekarang, bila dia kesal karena perilaku Anda, dia boro-boro mau minta maaf. Malah kebeneran kalau musuhan sementara, supaya tidak banyak disuruh-suruh. Ha ha ha…. Sekarang, Dia dan Anda menjadi sangat rasional soal tranportasi pulang dan pergi. “Jakarta macet, tahu… ya nggak efisienlah pakai acara antar-dan-jemput. Jadi manusia kudu mandiri, jangan ngandelin orang lain. Pulang sendiri ya… “ Sekarang, walapun kadang-kadang Anda masih berusaha membuatnya merasa cemburu dengan menceritakan betapa romantisnya ‘mantan-mantan’ Anda, ia malahan komentar, “Udah tua kok masih aja ngungkit-ngungkit mantan. Dasar ganjen!” Gubrak!!!!!

 
Potret Persahabatan
                                   “To get the full value of joy you must have someone to divide it with.” 
                                                                                 Mark Twain

Sahabat, saya tidak ingin mengulas triangular theory of love. Bila Anda membutuhkan untuk merefleksikan kehidupan cinta Anda, Anda bisa mencari kata kunci triangular theory of love dari Sternberg di uncle google. Dari pengalaman bertemu dengan pasangan-pasangan, bahkan sudah ada yang merayakan 50 tahun perkawinan emas, saya melihat betapa pentingnya persahabatan dalam relasi perkawinan.

Betapa ‘eros’ atau gairah, bisa dengan halus berubah bentuk menjadi intimacy, companionship, persahabatan di dalam sebuah relasi. Apakah Anda menyadarinya?

Apakah Anda pernah secara khusus mengkoleksi potret persahabatan dalam relasi Anda dengan pasangan?

Mungkin saat ia menemani Anda atau Anda menemaninya menjalani proses persalinan yang amat mendebarkan, mengerikan, sekaligus amat membahagiakan. Bagaimana ia mendukung Anda dan bersama Anda dalam peristiwa hadirnya buah hati Anda. Bagaimana ia bersama Anda saat Anda pertama kali menjadi seorang AYAH dan menjadi seorang BUNDA. Mungkin potret saat Anda memeluknya ketika ia kehilangan pekerjaan, atau mengalami kekecewaan dalam usaha, atau saat ia berada dalam saat-saat sulit. Hal-hal yang menyakitkan, memalukan, dan berat, Anda tanggung berdua bersama-sama. Atau saat Anda memandanginya tertidur kelelahan di malam hari. Ia bekerja keras sepanjang hari, dan ia begitu kelelahan. Anda mengecup keningnya dan mengatakan “selamat tidur, sayang.” Adakah Anda potret saat-sata itu? Atau potret ketika Anda dan pasangan tertatih-tatih mencari rumah sakit saat buah hati Anda sakit. Anda berdua berjuang untuk melindunginya, untuk menjaganya, mengharapkan kebaikan dan kesembuhannya. Ia bersama Anda saat itu… Apakah itu Anda abadikan? Betapa Anda memiliki sahabat setia dalam menjalani suka duka kehidupan. Betapa ia hadir dalam saat-saat paling sedih, paling bahagia, paling susah, paling senang, saat miskin, saat kaya, saat panas terik, dan saat hujan badai. Semoga Anda bisa memotret semua itu dan menyimpannya dalam kenangan Anda. Luar biasa, ya… Apa yang dulu diberikan oleh ‘cupid’ kepada Anda, ternyata sudah begitu berkembang, berubah menjadi semakin matang, menjadi semakin indah, menjadi semakin dalam, yaitu persahabatan. Bukan sekedar eros semata… Bukankah hal ini layak disyukuri dan dirayakan? Bukankah persahabatan amatlah romantis? Bukankah persahabatan ini yang banyak dikenang dan dirindukan saat pasangan kita meninggal? Bukan sekedar ‘jurus’nya saat bercinta, atau teknik ciuman ala ini dan itu. Tapi Anda sangat merindukan persahabatan dan waktu-waktu bersamanya…



Celebration of Love
Apakah Anda akan sangat terganggu saat sandal jepit Anda hilang, bila Anda punya sandal-sandal lain yang jauh lebih bagus? Semoga Anda tidak terlalu menyesali kehilangan ‘asmara’ atau eros dalam kehidupan cinta Anda, bila Anda sudah memiliki romantisme persahabatan bersama pasangan Anda.

Sahabat, apa yang Anda lakukan untuk merayakan cinta Anda? Apa yang Anda lakukan untuk memperingati hari ‘jadian’ Anda?

   “It is an absolute human certainty that no one can know his own beauty or perceive a sense of his own worth                      until it has been reflected back to him in the mirror of another loving, caring human being.” 
                                               John Joseph PowellThe Secret of Staying in Love

Selamat mencintai, selamat bersahabat, selamat menjalani suka-duka kehidupan bersama orang yang Anda kasihi. Selamat membuat potret-potret persahabatan, dan selamat mengenang dan merayakan cinta!

Jakarta, 18 Juli 2015
Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Managing Director Ad Familia Indonesia
www.adfamilia-indonesia.com

]]>
<![CDATA[Forgiveness Therapy: Bisakah Melepaskan?]]>Fri, 17 Jul 2015 22:25:58 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/forgiveness-therapy-bisakah-melepaskanForgiveness Therapy
Bisakah Melepaskan?
Oleh: Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psikolog
Sahabat, dalam kehidupan kita, seringkali kita merasakan menjadi “korban” dan tersakiti, seperti dikhianati, dilecehkan, diremehkan, ataupun menjadi korban kekerasan fisik yang dilakukan oleh orang terdekat kita. Banyak situasi yang membuat kita dihadapkan pada pertanyaan “dapatkah saya memaafkan dia?”.

Memaafkan itu seperti teori, mudah diucapkan tetapi sulit untuk dipraktekan. Kesalahan terbanyak yang dilakukan saat memaafkan adalah kita hanya memaafkan pada level kognitif, ketika kita sadari kita perlu memaafkan maka kita memutuskan untuk memaafkan, namun tidak seutuhnya kita memaafkan dia. Tidak bisa dipungkiri sulit rasanya untuk memaafkan ketika rasa takut atau marah masih mendominasi pikiran kita. Kita hanya berupaya untuk menjaga diri kita untuk tidak terus merasa sakit ataupun juga menyakiti orang lain. Pada situasi ini, sudah pasti tidak ada kesempatan bagi memaafkan dapat mengambil alih.  Tetapi pertanyaannya, apakah kita sudah memaafkan dari hati? Apakah kita sudah mampu berbaikan dengan orang yang menyakiti kita? Sahabat, dalam moment Idul Fitri kali ini, mari kita kenali lebih jauh forgiveness therapy karena dengan memaafkan dapat membantu kita untuk terlepas dari energy negative yang menciptakan rasa sakit, marah, menderita, ataupun keinginan untuk balas dendam. Dengan melepaskan energy negative itu, sahabat mampu terus berjalan maju dengan meninggalkan beban yang selama ini memberatkan jalan kita dan lingkaran korban - pelaku pun terputus.

Forgiveness Therapy tidak terlepaskan dari berbagai jenis psikoterapi yang ada. Terapi yang dilakukan tanpa diakhiri dengan memaafkan dapat dikatakan sebagai suatu terapi yang tidak tuntas. Untuk bisa mematikan api emosi pada klien, maka klien harus bersedia untuk melepaskan semua emosi negative yang terkait dengan situasi tertentu dan menggantinya dengan emosi positif. Sahabat, tidak bisa dihindari apabila kita tetap menyimpan kemarahan dan sulit untuk memaafkan, kita punya risiko besar untuk kurang mampu menjalin hubungan yang hangat dengan orang lain, karena kita sulit memaafkan orang lain atau memberi maaf bagi orang lain.

Terkadang, pengertian memaafkan menjadi disalahartikan. Memaafkan tidak berarti sahabat harus melupakan kejadian menyakitkan yang pernah sahabat alami. Dalam sebuah artikel berjudul “The Challenge of forgiveness” oleh Luskin, dikatakan bahwa memaafkan itu berarti kita berdamai dengan diri dan menyadari hal buruk dapat terjadi dalam hidup, yang pertama kita lakukan dapat bersedih, marah ataupun kecewa, kemudian menerima situasi tersebut hingga akhirnya dapat memutuskan untuk move on. Memaafkan menurut Luskin berarti perbuatan buruk berhenti di kita dan kita memutuskan lingkaran ‘setan’ yang terus membuat kita berputar antara korban – pelaku. Ketika emosi negative tersebut mengikuti kita, ini membuat kita menjadi seperti terikat tali pada emosi tersebut dan terus terfokus pada masalah serta keinginan untuk menyakiti pelaku dibandingkan untuk focus pada diri sendiri dan yang terpenting adalah healing pada diri sendiri. Sahabat, secara umum memaafkan berarti mengembalikan situasi ke dalam sebuah keseimbangan yang menjanjikan kesehatan fisik, penguatan hubungan relasi satu sama lain dan kemampuan mengelola emosi yang lebih baik. Di sisi lain, dengan memaafkan berarti kita menyerahkan ‘kekuasaan kita akan orang lain’ oleh sebab itu banyak orang yang sulit untuk memaafkan.

Ada empat hal yang terpenting dalam sebuah proses memaafkan. Pertama, ekspresikan emosi, kemudian pahami alasan terjadi situasi tersebut. Hal ini disebabkan karena otak kita akan terus mencari penjelasan hingga kita puas. Selain itu, penting juga untuk mengenali alasan sebelum akhirnya dapat memaafkan. Ketiga, yakinkan diri bahwa kita tidak lagi menjadi korban maupun pelaku, hingga akhirnya kita dapat mencapai fase tersulit yaitu let go dari semua emosi negative. Keempat hal ini bukanlah sebuah tahapan, namun tiga hal pertama sebelum dapat let go haruslah bisa dilalui terlebih dahulu. Dan ini menjadi sesuatu yang sulit karena umumnya seseorang akan berusaha untuk mengabaikan perasaan dan berusaha untuk melupakan saja.

Ekspresi emosi adalah satu hal yang terpenting dari sebuah proses memaafkan. Ketika mengalami situasi tidak mengenakan, pastinya ada keinginan dari diri kita untuk meluapkan semua emosi, baik marah, kecewa, sakit, malu kepada pelaku. Namun, kita sadari hal itu sulit untuk dilakukan. Maka hal-hal yang dapat sahabat lakukan untuk mengeluarkan semua emosi yang selama ini menyesakkan di dada adalah dengan empty chair, seperti dengan berbicara pada sebuah kursi kosong dengan mengandaikan pelaku duduk di kursi tersebut. Ataupun teknik lain seperti menulis surat, menggambar, menciptakan sebuah lagu, ataupun semudah berteriak dapat juga menjadi alternative. Seorang klien saya pernah melakukan ekspresi emosi ini dengan ‘memindahkan’ emosinya pada sebuah toples kecil di meja. Ia mengganggap toples ini sebagai pelaku kekerasan padanya. Di awal ia tidak berani memandang toples tersebut, hingga akhirnya perlahan mampu untuk berteriak pada toples tersebut, dan akhirnya melemparkan toples itu hingga pecah. Ia merasa lebih tenang setelahnya. Namun, perlu diperhatikan untuk tetap meminta bantuan professional ketika sahabat ingin melakukan teknik-teknik seperti empty chair, contemplating question, maupun teknik toples seperti yang dilakukan klien saya. Memang pada akhirnya, semua perasaan belum tentu hilang namun dapat membantu kita untuk dapat focus pada hal lain yang baik untuk healing diri kita sendiri hingga akhirnya dapat melepaskan masalah dan memaafkan.

Ada beberapa hal yang mungkin sulit untuk dimaafkan, namun tidak berarti dunia berakhir di titik ini dan membuat kita sulit untuk maju. Seorang ibu kehilangan anak satu-satunya karena kecelakaan yang disebabkan supir mabuk yang menabrak mobil anaknya hingga meninggal di tempat. Anaknya meninggal sedangkan supir tersebut selamat. Ibu tersebut menyimpan kemarahan yang sangat besar pada supir tersebut. Meskipun ia sudah merelakan anaknya dan menjalani berbagai terapi, tetap sulit baginya untuk memaafkan si supir. Namun demikian, ibu tersebut berupaya untuk mencegah kejadian itu terjadi lagi pada anak lain, maka ia kemudian aktif menjadi pembicara dalam seminar-seminar mengenai penyalahgunaan alcohol. Hal ini dilakukannya untuk mengenang anaknya. Ia berhasil melanjutkan hidupnya dan menghasilkan sesuatu yang positif dari kejadian tersebut meskipun tidak mampu memaafkan supir. Proses yang dilalui ibu ini untuk menemukan hal positif dari kejadian yang dialaminya merupakan tahapan penting dalam sebuah proses memaafkan.

Cara untuk mengatasi ketakutan dan kemarahan akan sebuah kejadian adalah dengan mengingat kejadian tersebut dan masih tetap merasa tenang. Tarik nafas yang dalam dengan perlahan sembari membayangkan kejadian tersebut dan mengingat keseluruhan kejadian tersebut. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari keluarga ataupun teman, ataupun bantuan professional seperti psikolog maupun terapis apabila dirasakan sulit dilakukan seorang diri. 

Ketika kita sudah berada pada titik mampu untuk memaafkan orang yang sudah menyakiti kita, maka janganlah ragu untuk berbagi cerita tersebut ke keluarga, teman, maupun lingkungan sebagai sebuah contoh nyata proses memaafkan yang sudah kita lalui. Hal ini tidak hanya berguna untuk membantu orang lain yang sedang mengalami situasi sulit untuk memaafkan masa lalu, tetapi juga sebagai bentuk komitmen memaafkan bagi diri sendiri yang kita sebarkan ke orang lain agar kita tidak lagi ‘terjatuh’ ke lubang yang sama. Maka kita pun akan mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat untuk bisa melangkah maju. Sebuah project memaafkan yang diciptakan oleh Marina Cantacuzino, yang terkenal dengan nama The Forgiveness Project, mengumpulkan kisah-kisah nyata mengenai proses memaafkan dari banyak orang dari berbagai budaya, usia, latar belakang, seperti salah satunya orang yang menjadi korban perang Irak. Kisah-kisah tersebut dikumpulkan menjadi sebuah buku dan kisah-kisah baru terus terbit di www.theforgivenessproject.com. Sebuah kisah nyata yang mengajari kita untuk memaafkan dan memaknai bahwa memaafkan adalah sesuatu yang indah.

Sahabat, ketika kita memaafkan, maka kita membersikan diri kita dari udara-udara yang mengotori mental dan emosi kita hingga akhirnya kita mampu bernafas lebih lega dan berani melanjutkan hidup kita.

Jadi, sudah cukup kuatkah sahabat memaafkan orang lain?

Jakarta,17 Juli 2015,
Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psikolog

Koordinator Psikolog Sahabat Keluarga & AFI Public
Ad Familia Indonesia
www.adfamilia-indonesia.com

]]>
<![CDATA[Seri Psikoterapi: Cognitive Analytic Therapy]]>Sat, 11 Jul 2015 01:06:03 GMThttp://adfamilia-indonesia.com/articles/seri-psikoterapi-cognitive-analytic-therapySeri Psikoterapi

COGNITIVE ANALYTIC THERAPY: 
Bisakah Saya Menemukan Jalan Keluar?

Oleh: Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psikolog
Susah payah ia berusaha menahan dirinya ketika ia membuka kulkas. Ada ice cream kesukaannya, ada kue tart sisa ulang tahun, dan ada aneka yoghurt. Semua diambilnya dengan tergesa, kemudian ditaruh di meja makan. Ia 'menjejalkan' semua masuk ke mulutnya, dengan cepat, seolah takut tidak ada lagi waktu makan. Ia biarkan tergeletak berantakan, kemudian ia memasukkan roti yang dioles selai nanas ke dalam mulutnya, sekaligus 4 helai roti yang diremas kuat berbentuk bola. Masih merasa kurang, ia memakan kerupuk udang yang tertinggal beberapa potong dan semua kue kering yang masih ada di toples. Ia makan semuanya hanya dalam waktu 20 menit sambil air matanya terus mengalir dan ia terus mengutuki dirinya. "Perempuan rakus", "tidak tahu malu", "nanti kamu gendut", "biar saja gendut, siapa juga yang peduli", semua kalimat-kalimat itu berputar di kepalanya sambil ia menjejalkan makanan ke mulutnya dan menangis. Dengan sembrono kemudian ia buang semua plastik pembungkus ke tempat sampah dan ia segera ke kamar mandi untuk memuntahkan makanannya. Kadang berhasil, kadang tidak berhasil, tapi ia tetap 'rajin' berusaha muntahkan makanannya. Ia tidak mau gendut. Ia menangis di kamar mandi, meraung-raung, begitu kesepian, begitu pedih..."Mungkinkah bisa keluar dari maze ini?"
Cognitive Analytic Therapy (CAT) mungkin tidak sepopuler dengan “teman terdekatnya”, yaitu Cognitive Behavior Therapy (CBT). Namun, CAT sendiri merupakan sebuah gabungan antara psikoanalisa dan CBT hingga menjadi sebuah terapi yang mudah digunakan dan efektif.

Sesuai dengan namanya, CAT adalah sebuah terapi yang menggabungkan antara psikoanalisa dan terapi kognitif. Dalam CAT, terapi akan tetap melihat ke masa lalu dan pengalaman yang dialami oleh klien. Tujuan dari CAT pun untuk memahami latar belakang klien ketika berpikir, berperilaku dan merasakan apa yang klien lakukan ketika menghadapi masalah, sebelum pada akhirnya terapi dapat membantu mereka dalam memecahkan masalah hingga kemudian mengembangkan sebuah coping mechanism yang baru.

Dasar yang kuat untuk dapat membuat terapi ini berjalan baik adalah hubungan empati yang dibangun antara terapis dan klien. Dasar ini pun berlaku pada setiap psikoterapi lainnya, karena penting bagi klien untuk dapat merasa percaya kepada terapis agar klien dapat terbuka hingga terapis pun dapat membantu klien untuk dapat merasakan situasinya dan mencari cara bersama untuk membuat perubahan yang lebih baik.

CAT adalah sebuah terapi yang sangat aktif, terapi ini mengundang klien untuk menjadi observer dalam hidupnya sendiri dan mengambil bagian secara mandiri hal-hal apa saja yang perlu untuk diubah. Perubahan yang terjadi bisa saja sangat sederhana, seperti berhenti untuk bersikap menghindar dari masalah, atau pun juga bisa sangat besar. Semua tergantung pada karakter klien maupun masalah yang dihadapi. Sama seperti terapi lainnya, CAT pun merupakan sebuah terapi yang dibuat spesifik satu individu dengan individu lainnya atau biasa disebut dengan tailor-made.

Sebelum kita mengenal CAT lebih jauh lagi, akan lebih baik apabila kita mengenal lebih dulu awal mula CAT dikembangkan. CAT ‘lahir’ di tahun 1980an oleh Dr. Anthony Ryle di London. Terapi ini dikembangkan sebagai bentuk respon akan kebutuhan kesehatan mental di daerah tengah kota London yang sibuk. Dr. Ryle merasa perlu untuk membuat sebuah terapi yang berlandaskan batas waktu tertentu dalam setting kesehatan mental yang terintegrasi dengan berbagai pendekatan. Dr. Ryle memiliki pandangan bahwa terapi ini akan terus berkembang dengan adanya penelitian-penelitian serta semakin banyaknya pengalaman terapis-klien yang ada. Hingga saat ini, sudah banyak penelitian yang mengembangkan terapi ini.

CAT melihat sebuah hubungan timbal balik antar manusia, tidak sebatas hanya diri sendiri saja. Ia mengajak klien untuk melakukan analisa permasalahan yang muncul antar dirinya dengan orang lain maupun dengan masa lalunya.  Seperti salah satu contohnya adalah anak yang diabaikan semasa kecilnya, tidak hanya sebatas dilihat ia sebagai obyek penderita tetapi juga hubungannya dengan orang sekitarnya yang mengabaikan.

Contoh lainnya, apabila ketika di masa kecil kita belajar bahwa kita hanya mendapatkan kasih sayang dengan menyenangkan orang lain, maka akan tertanam dalam diri kita “aku hanya akan disukai apabila mengikuti apa yang orang lain katakan” yang pada akhirnya membuat kita terperangkap dalam area yang salah. Pada akhirnya yang dirasakan adalah perasaan dimanfaatkan dan menjadi korban. Pemikiran ini akan terus berulang yang akhirnya muncul dalam perilaku sehari-hari. Dalam beberapa penelitian dikatakan, respon automatis dari seseorang dalam kehidupan sehari-harinya merupakan sebuah pola yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan. Tujuan CAT disini adalah membantu klien untuk merubah sikap yang sudah dipelajari dan pandangan akan diri sendiri dan orang lain hingga akhirnya membantu klien untuk focus serta berani untuk membuat sebuah pilihan yang lebih baik.

Dasar psikoanalisa menjadi kuat dalam CAT karena sisi analisa dari terapi ini mengajak klien untuk mengeksplorasi masa lalunya yang berhubungan dengan masalah masa kini yang dihadapinya. Sisi inilah yang membuat CAT berbeda dengan CBT yang lebih memfokuskan pada here and now. Namun, tidak tertutup kemungkinan pada akhirnya pun akan terjadi perubahan perilaku dari klien. Setelah terapis membantu klien untuk dapat memahami semua hubungan sebab-akibat antara pengalaman di masa lalu dan masa kini, terapis akan mengidentifikasi teknik apa saja yang digunakan oleh klien di masa lalu untuk mengatasi masalah, berjuang, ataupun menangani dirinya sendiri ketika menghadapi masalah selama pengalaman tidak menyenangkan itu dihadapinya. Terapis dan klien pun akan berdiskusi mengenai teknik-teknik tersebut apakah terus berlanjut hingga dewasa atau bahkan semakin dewasa menjadi semakin menyulitkannya. Serupa dengan CBT, focus CAT adalah membantu klien untuk mengembangkan cara untuk mengatasi masalah yang lebih baik dengan apapun masalah psikis yang nantinya akan dihadapi klien. Pada saat klien mampu melakukan identifikasi terhadap masalahnya saat ini, ia akan mulai berpikir untuk membuat perubahan, yang mana dalam CAT dikenal sebagai “exits”.

Setelah beberapa sesi awal, terapis akan memberikan klien sebuah kuesioner  yang terkait dengan perubahan mood maupun symptom. Tujuannya adalah untuk memecahkan permasalahan mengenai pikiran maupun perilaku apa saja yang memiliki kontribusi pada masalah. Tahap selanjutnya adalah terapis akan membuat sebuah tulisan yang dikenal dengan sebutan “reformulation letter” yang nantinya akan dibuat menjadi sebuah jurnal maupun diary bagi klien. Terapis akan bekerja sama dengan klien untuk memetakan permasalahan yang ada dalam sebuah kertas untuk membantu klien memahami pemikiran berulang yang meresahkan klien. Salah satu kunci keberhasilan terapi ini adalah pentingnya kejujuran maupun keterbukaan dari terapis untuk mengutarakan semua proses yang dijalani seperti juga ketika klien menceritakan permasalahannya. CAT adalah sebuah terapi yang sangat kreatif dan selama proses yang terjadi akan sangat memungkinkan melibatkan berbagai macam metode seperti menulis, aktivitas fisik, self reflection maupun juga membuat sebuah jurnal yang dapat membantu klien melihat setiap progress yang dijalaninya.

CAT mencoba untuk focus pada masalah apa yang individu bawa ke terapi (target problems) dan pola yang menjadi dasar permasalahan tersebut. Terapi ini tidak terlalu berfokus pada symptom-simptom psikiatrik, sindrom yang ada maupun labeling. Beberapa permasalahan yang dapat diatasi dengan terapi ini antara lain adalah depresi, anxiety,  stress yang tidak teratasi hingga memunculkan keinginan menyakiti diri sendiri, relationship issues, phobia, eating disorder dan lain-lain.

K, adalah salah satu klien yang berhasil menemukan perubahan dan menemukan “exits” dengan terapi ini. K direkomendasikan untuk mengikuti terapi ini karena Ia berulang kali mengalami overdosis akan paracetamol yang dapat membahayakan nyawanya. K berasal dari keluarga retak, ia diadopsi dan mengalami kekerasan seksual di masa kecilnya. Pengalaman masa kecilnya yang kerap kali mengalami penolakan dan kekerasan membuatnya merasa dirinya tidak berharga dan tidak dicintai. Ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk belajar mengatakan “tidak” karena takut ditolak oleh sekitarnya.  Ia mengembangkan berbagai cara untuk mengatasi perasaan tidak bahagia yang dialaminya. Di usia 12 tahun ia mulai mengembangkan gangguan makan. Memasuki usia remaja, perasaan tidak berharga itu semakin berkembang seiring dengan munculnya kelompok pertemanan tertentu di sekolahnya. Ia semakin merasa tidak diharapkan oleh orang lain. Ia pun pada akhirnya ‘melarikan dirinya’ dengan membaca novel romantic dan memiliki idealism hubungan yang sempurna adalah hubungan dalam sebuah novel romantis. Ketika realitanya Ia tidak mendapatkan hubungan tersebut, ia menjadi marah dan semakin merasa tidak berharga dan tidak diharapkan. Hingga akhirnya ia menjadi overdosis pada paracetamol. Dalam terapi yang dilakukan dengan K, berawal untuk membantu K melihat pola ketika ia merespon sebuah hubungan dengan orang lain yang mendorongnya hingga menjadi kecanduan paracetamol. Ia diajak untuk melakukan rating selama terapi dalam setiap hubungan yang dijalaninya untuk membedakan pada hubungan dalam novel. Ia belajar untuk memisahkan apa yang dirasakannya, dipikirkan dan belajar untuk mengutarakan emosinya dalam sebuah diary. Terapis membuat sebuah pemetaan mengenai pola berpikir K yang membuatnya terjebak dalam masalah. (sumber : www.acat.me.uk)

CAT dalam kasus K, dapat dilihat bahwa CAT mampu secara mendalam menemukan akar permasalahan melalui sesi-sesi terapis dengan klien yang membawa klien “kembali” ke masa lalunya dan hubungannya di masa kini. Dengan menemukan akar permasalahan yang kompherensif melalui melalui pemetaan masalah, terapis dan klien dapat bekerja sama untuk menemukan teknik pemecahan masalah yang tepat dan efektif demi perkembangan kesehatan mental klien baik saat ini maupun ke masa yang akan datang. Namun, tidak tertutup kemungkinan terapi ini dapat dikolaborasikan dengan metode terapi lain, seperti CBT, dengan tetap disesuaikan dengan kebutuhan klien.

*artikel ini mengambil data dari berbagai sumber



Jakarta, 10 Juli 2015
Nania Permatasari Bukit, M.Psi, Psikolog
Koord. Psikolog Sahabat Keluarga
Koord. AFI Public
Ad Familia Indonesia
www.adfamilia-indonesia.com

]]>